Mahkota Cinta P1

(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)

Satu

Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor Bahru.

Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa.

la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir. Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan. Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru, Malaysia.

"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda. Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.

"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"

Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.

"Kok malah bengong Dik."

"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua-duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."

"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."

"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak kerja di mana?"

"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."

Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya. Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu.

"Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh teman-teman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein."

"Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?"

"Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja saya Zul Mbak."

"Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan tangannya.

"Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"

Perempuan muda itu malah tertawa kecil.

"Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang minyak. Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas."

"Obegituya."

"Rencananya nanti mau ke mana? Di Malaysia sudah ada tempat yang dituju?"

"Tempat yang dituju secara pasti tidak ada. Saya hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon. Saya ingin sampai ke Kuala Lumpur dulu, baru setelah itu saya akan telpon orang itu."

"Ya syukurlah. Saya pun nanti lewat Kuala Lumpur. Kalau mau kita bisa jalan bersama."

Ia diam saja. Tidak menjawab apa-apa. Lintas Samudera terus melaju. Tidak terlalu cepat. Dan juga tidak terlalu lambat.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, Lintas Samudera merapat di pelabuhan Johor Bahru. Begitu pintu feri dibuka, para penumpang berebutan keluar. Zul keluar dengan membawa tas cangklong hi tarn dan tas jinjing besar biru tua. la mengiringi Mari yang berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas cangklong putih dan koper kecil beroda warna hijau.

Mereka berjalan menuju gedung pelabuhan. Petugas security pelabuhan sibuk memeriksa barang bawaan para penumpang. Tas dan koper Mari diperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Mari dipersilakan langsung menuju imigrasi. Tas jinjing Zul juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa makanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil pemberian Pak Hasan kala ia berpamitan, sebelum berangkat. Petugas security itu memerintahkannya untuk terus jalan. Zul bergegas menuju imigrasi. Mari sedang serius mengisi formulir kedatangan untuk imigrasi.

"Harus diisi semua ya Mbak?" tanya Zul.
"Ya. Kecuali kolom yang khusus diisi petugas imigrasi," jawab Mari sambil tetap menulis. Sesekali ia mencocokkan apa yang ia tulis dengan paspornya.
"Ini kolom alamat selama di Malaysia juga harus diisi Mbak."
"Sebaiknya iya."
"Wah saya belum punya alamat Mbak."
"Pakai alamat saya juga tidak apa-apa."
"Di mana Mbak?"
"No. 8A, Jalan USJ 1/18, Taman Subang Permai, Subang Jaya. Nanti kalau pihak imigrasi tanya untuk apa datang ke Malaysia, bilang saja untuk melancong dan mengunjungi saudara."
"Iya Mbak."

Keduanya lalu masuk konter imigrasi. Tak ada masalah berarti. Petugas imigrasi sama sekali tidak bertanya apapun kepada Mari. Sebab ia masih punya visa multientry. Sedangkan Zul hanya ditanya untuk apa datang ke Malaysia. Zul menjawab seperti yang disarankan oleh Mari. Begitu keluar dari gedung, puluhan sopir taksi menawarkan jasanya. Mari menjawab tegas bahwa ia sudah ada yang menjemput. Zul agak bingung menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya. Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke arah Mari yang melangkah dengan mantap. Mari menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan agar ikut dengannya. Zul merasa tidak ada salahnya pergi ke Kuala Lumpur bersama Mari. Apalagi ia benar-benar asing di negeri Jiran ini.

"Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Stesyen Larkin. Dari Larkin kita naik bus ke Purduraya KL." Jelas Mari.
Sepuluh menit kemudian bus datang. Mari, Zul dan puluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar mereka ke Stesyen Larkin. Dari Larkin Mari mengajak Zul ke loketbus Trans Nasional.
"Biar saya yang bayar Dik."
"Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak."
"Anggap saja kita bersaudara. Jadi santai saja."
"Satu orangnya berapa Mbak?"
"Dua puluh empat ringgit. Kita pakai bus yang ada toiletnya. Biar nyaman di perjalanan. Yuk kita segera naik. Sepuluh menit lagi bus akan berangkat."

Mereka berdua naik bus Trans Nasional. Zul dan Mari duduk di kursi yang berdekatan. Selain wajah Indonesia, tampaklah wajah-wajah China, India dan Melayu menjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah Indonesia, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebab sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah.

Bus berjalan keluar stesyen. Lalu melaju membelah kota Johor Bahru dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian bus itu sudah meninggalkan Johor Bahru, dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus itu membelah perkebunan kelapa sawit. Zul memandang ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah rimbunan pohon kelapa sawit yang bagai berlarian ke belakang.

"Dari logat adik bicara, sepertinya adik orang Jawa."
Mari membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia tampaknya agak kedinginan.

"Iya Mbak benar. Saya asli Demak Mbak. Kalau Mbak?"
"Saya juga Jawa Dik. Saya asli Sragen."
"Maaf, e... Mbak sudah berumah tangga?"
"Sudah."
"Sudah punya anak dong Mbak?"
"Belum. Bagaimana mau punya anak lha wong rumah tangga saya hanya berumur dua minggu."
"Cuma dua minggu?"
"Iya bisa dikatakan demikian."
"Suami Mbak meninggal?"
"Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma dan rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."
"Maafkan saya Mbak, jadi mengingatkan pada halhal yang tidak Mbak sukai."
"Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya. Memang menyakitkan jika diingat." Kata Mari sambil mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang menyesak dalam dadanya.

Zul diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. Ia kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana.

"Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan daripada selama perjalan diam saja/' Mari kembali membuka percakapan. "Tidak apa-apa kan? Kau maumendengarkan kan Dik?" lanjutnya sambil memandangi Zul. Zul jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Zul mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus ke depan. Mari mulai bercerita,

"Saat itu saya masih kuliah di UNS Solo. Saya berkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya itu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya W. Saya tidak mau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah mengharamkan diri saya untuk menyebut namanya. Saya sangat membencinya hingga tujuh turunan.

"Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya W mengerti benar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu memakai mobil mengkilat. Orangtua W adalah saudagar kaya di Klewer dan Tanah Abang Jakarta. Dia sering datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya dengan limpahan hadiahnya.

"Sampai akhirnya W mengatakan bahwa dia sangat mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya.

Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan W, karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak Modin yang sedang kuliah di IAIN Walisongo Semarang. Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu saya itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang membuat saya menderita dan menanggung nestapa.

"Ringkas cerita, kami pun menikah. Kami menikah tahun 1998. Ia langsung memboyong saya ke Solo Baru. Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana. Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Seminggu setelah menikah, W pamit untuk pergi ke Jakarta. Dia bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapa hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit seperti runtuh menimpaku. W tertangkap polisi dalam keadaan over dosis dengan seorang pelacur Jakarta. Ia masuk bui. Keluarganya tidak peduli.

"Kakak perempuannya bahkan terang-terangan mengatakan sangat membenci W. Dari kakak perempuannya itulah saya tahu bahwa W sesungguhnya lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripada makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwa dirinya pernah diperkosa oleh W saat W sedang sakau. Ia tidak berdaya karena W mengancam akan membunuhnya. W itu tega memperkosa kakak kandungnya sendiri, apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benar-benar jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak akan menikah lagi!"

Ada nada amarah dalam kata-kata Mari. Ada kebencian yang luar biasa di sana. Zul merasa ngeri mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Mari diam tidak melanjutkan ceritanya. Pandangannya lurus ke depart. Jika diamati lebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkaca-kaca. Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam. Akhirnya Zul memberanikan untuk membuka suara,

'Apa Mbak sampai sekarang masih jijik dengan kaum lelaki. Termasuk saya?"
Mari mengambil nafas dalam-dalam,

"Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya tidak boleh menimpakan dosa seorang W pada semua kaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada lelaki saya pernah punya keinginan untuk hidup berumah tangga dengan kaum perempuan saja."

"Sampai seperti itu Mbak."
"Iya. Gila bukan? Tapi jangan takut. Saya katakan, saya pernah punya keinginan. Hanya pada taraf keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak lagi."
"Sejak kapan Mbak bisa kembali normal memandang dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan kembali normal memandang dunia, termasuk kaumlelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma pada lelaki itu sikap tidak normal."
"Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemu dengan seorang Ustadzah. Dia lulusan pesantren. Dia ikut suaminya yang sedang mengambil program doktor.
Ustadzah itu begitu sabar menyempatkan waktu untuk memberikan pencerahan kepada kami, para tenaga kerja wanita. Dan ia begitu sabar mendengarkan semua keluhan saya. Saya pernah diajak oleh Ustadzah itu tidur di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumah tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih sayang suami Ustadzah itu kepada keempat anaknya yang semuanya perempuan. Sejak itulah saya tahu bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini."
"Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?"
"Ya tentu saja punya. Namun ayah saya sudah tidak ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak tertua saya lelaki. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya."
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah rerimbunan kebun kelapa sawit yang tampak hijau tua.

"Bagaimana ceritanya Mbak bisa sampai ke Malaysia. Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"

"Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat saja ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah di Solo Baru disita polisi karena ternyata suami punya piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya. Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak ragil. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Mereka juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan mereka.

"Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah sebelum menikah saya sudah selasai D.3 Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D.3, saya diterima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. Saya hidup damai kurang lebih dua tahun. Saya bahkan sempat nyambung kuliah, dan menyelesaikan S.l di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Jakarta.
Tapi tiba-tiba entah bagaimana, mantan suami saya itu bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia sudah keluar dari penjara dan meminta saya agar kembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi meninggalkan Jakarta hari itu juga. Saya bersembunyi ke Bandung. Di Bandung ada agen pengiriman tenaga kerja ke Malaysia. Saya ikut agen. Akhirnya saya mengadu nasib dan terbang ke Malaysia. Sampai sekarang saudara-saudara saya tidak saya beritahu kalau saya di Malaysia. Terakhir saya nelpon mereka saat saya masih di Bandung. Saya kuatir mantan suami saya itu akan mengejar saya."

"Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi oleh hukum?"

'Ah kamu ini Dik. Apa selama ini kamu hanya hidup di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum. Lebih baik saya di Malaysia dulu, baru kalau saya sudah mendengar si W itu telah mampus, saya akan balik ke Indonesia. Walau bagaimanapun saya punya saudara dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidup berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya. Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu adil dan Dia juga Maha Penyayang. Saya masih percaya itu Dik."

Zul hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak hanya dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumit dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumit yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.

"Kalau adik, bagaimana? Bagaimana bisa sampai harus ke negeri Jiran ini? Adakah cerita yang bisa dibagi dan didengar?" Mari balik bertanya. la merasa selama ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian mendengarkan cerita dari Zul.

"Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini tak kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya saja saya merasa tidak harus sekarang saya menceritakannya. Saya janji saya akan gantian membagi cerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa bertemu di negeri Jiran ini. Itu pun kalau Mbak benar-benar masih sudi menemui saya."

"Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?"
"Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu."
"Ah, kamu ini. Ya saya akan merasa jijik sama kamu jika kelakuan kamu ternyata tidak berbeda dengan si W, mantan suami saya itu."
"Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya berbeda dengan mantan suami Mbak. Kenapa Mbak tidak waspada? Kenapa Mbak justru malah mengajak saya jalan bersama?"

Mari tersenyum, lalu menjawab,

"Dengar ya Dik. Orang yang sudah pernah terluka seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya. Dari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya bisa meraba watak seseorang dari gerak dan binar matanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik!"

"Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?" sahutnya sambil melihat ke luar jendela.
"Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu berubah."

Jawab Mari tegas. Zul merasakan ketegasan itu. Kalimat dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya. Dari ketegasan itu, Zul mengerti bahwa perempuan muda di sampingnya adalah perempuan yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan.
Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya perlahan dan memandang ke arah wajah Mari. Mari ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam hati Zul. Wajah Mari tampak kurus, tapi ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang mampu membuat hati Zul merasakan getaran halus yang masuk begitu saja.

"Apakah ada kilatan binar serigala dalam mataku Mbak?"

Mari tersenyum, dan menjawab,

"Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Mendengar jawaban Mari, Zul diam dan tidak berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia memandang rerimbunan pohon kelapa sawit yang seperti berlomba-lomba lari ke belakang. Dalam hati Zul membenarkan perkataan Mari. Sebab saat ia memandang wajah dan mata Mari dengan seksama, ia menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukan kalimat untuk menjawab perkataan Mari,
"Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala. Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga. Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak berubah menjadi manusia serigala."
Mari tersenyum mendengarnya.
* * *

Dua

Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok, mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.

"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak kelihatan?" tanyanya pada Mari.
"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah Menara Kembar.
"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."
"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan gratis."

Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya. Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali. Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu. Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu. Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya, tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman KLCC itu.

Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali. Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung pada ketidakpastian.

"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas. Orang tua saya minta saya segera menikah. Tahun ini. Jika Mas mau ya tahun ini. Jika tidak ya anggap saja kita tidak berjodoh. Ini demi kebaikan saya dan Mas."

Itulah kata-kata Najibah yang masih ia ingat terus. Kata-kata yang tidak mungkin ia lupakan, karena saat itu ia tidak berdaya apa-apa sebagai seorang lelaki. Ia sama sekali tidak bisa memenuhi harapan orang yang dicintainya. Jangankan biaya untuk menikah, biaya untuk makan sehari-hari saja ia sering tidak punya. Ia benar-benar merasakan betapa susah jadi orang tidak punya. Sampai untuk menikahi orang yang dicintai saja tidak bisa. Ia benar-benar sedih dan menderita jika mengingatnya.

Sesungguhnya Najibah itu bukanlah gadis yang materialistis, ia tidak minta apa-apa, selain akad nikah. Namun akad nikah itu ada biayanya. Dan itu yang ia tidak punya saat itu. Ia benar-benar tidak punya. Ia merasa dirinya adalah orang paling miskin papa sedunia. Ah, ia berusaha melupakan peristiwa itu. Namun belum juga bisa. Bahkan sampai ia sudah di Kuala Lumpur pun peristiwa itu masih saja teringat olehnya. Ia yang mengalami peristiwa yang tak setragis Mari saja masih dibayangi oleh peristiwa itu, apalagi Mari. Wajar jika perempuan muda itu sampai mengalami trauma.

"Heh, melamun apa! Kita sudah sampai di Purduraya! Ayo siap-siap turun!"

Zul kaget dan tersadar dari lamunannya.

"Kita sudah sampai Mbak?"
"Iya. Ayo turun. Itu orang-orang sudah pada turun."

Mereka berdua lalu turun dari bus. Lalu naik ke lantai dua. Tempat dimana para penumpang berkumpul menunggu bus. Tempat dimana penumpang datang dan pergi. Di lantai dualah puluhan waning penjual oleh-oleh dan makanan dibuka. Juga di lantai dualah puluhan agen bus membuka konter.

"Mbak ini sudah Maghrib ya?" tanya Zul.
"Iya sudah. Gini saja. Kita shalat dulu gantian. Tempat shalat dan tandas ada di lantai tiga. Kita naik ke sana."
"Tandas itu apa Mbak."
"Toilet. Kalau bahasa orang Demak kakus."
"Wah kok nadanya agak menghina orang Demak thoMbak."
"Kamu ini lelaki kok sentimentil begitu. Ayo kita naik!"

Mereka berdua lalu naik ke lantai tiga. Mereka ke tandas dahulu, baru ke surau. Mereka shalat bergantian. Selesai shalat Zul bingung. la baru sadar kalau ia tidak memiliki tujuan yang jelas. Mari hanyalah teman bertemu di perjalanan.

"Inilah Kuala Lumpur Dik Zul. Ya selamat datang di Kuala Lumpur. Semoga nasibmu berubah di sini. Berubah jadi baik. Tidak sebaliknya. O ya, jadi kau mau menginap di mana?"

"Wah jujur saja Mbak. Saya tidak tahu harus menginap di mana."
"Katanya kau mengantongi sebuah nama dan nomor telpon itu bagaimana?"
"Ya, saya coba telpon dulu Mbak."
"Pakai hp saya saja Dik, tak usah pakai telpon umum. Tuh telpon umum antrenya kayak gitu," Mari mengulurkan hand phone-nya..
Zul menerima hand phone itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sobekan kertas. Lalu memanggil nomor yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat ia menunggu tidak ada jawaban. Lalu ia ulangi lagi. Empat kali ia memanggil dan tidak ada yang mengangkat.

"Bagaimana Dik?"
"Tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mungkin sedang shalat. Kalau gitu ayo kita cari makan dulu. Saya lapar. Setelah makan ditelpon lagi."
"Boleh."
Mari berjalan di depan. Ia sangat hafal seluk beluk Terminal Purduraya. Dan bisa dipastikan bahwa pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar Kuala Lumpur sangat akrab dengan terminal bus paling padat di Kuala Lumpur ini. Mari memilih makan di Kak Long Cafe. Sebuah cafe milik seorang Muslimah keturunan China.
"Bisa jadi kita nanti akan sulit bertemu. Bahkan mungkin akan tidak bertemu. Namun siapa tahu adik perlu bertemu dengan saya suatu hari nanti. Atau perlu bantuan saya. Saya akan kasih nomor telpon saya. Bisa ditulis?" kata Mari selesai makan.
"Bisa Mbak. Terima kasih ya atas segalanya. Berapa Mbak nomornya?" jawab Zul.
"0176767676. Bacanya mudah 01 terus tujuh enam empatkali."
"Wah mudah diingat Mbak."
"Coba orang yang kautuju itu dikontak lagi."
Zul langsung menelpon nomor yang ia telpon sebelumnya. Beberapa kali ia telpon tapi tidak juga berhasil.
"Tetap tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mmm...." gumam Mari sambil mengerutkan keningnya.
"Saya coba lagi Mbak."
Zul kembali melakukan panggilan. Tidak juga berhasil.
"Bagaimana, tidak berhasil juga?" tanyaMari.
"Iya."
"Kau di sini asing. Kalau tidak ada teman kasihan.
Kalau kau mau kau bisa ikut saya menginap di tempat saya."
"Menginap di tempat Mbak?"
"Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Di tempat saya ada tiga kamar. Kau bisa menginap di salah satu
kamarnya. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah. Besok kau bisa mencari orang yang kautuju itu. Itu kalau kau mau."
Zul terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapa-siapa di Kuala Lumpur ini. Nama yang ada dalam sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama itu adalah nama kenalan Pak Hasan. Katanya ia adik kelas Pak Hasan sewaktu kuliah di Jogja yang sekarang bekerja di Kuala Lumpur. Dan jujur ia memang perlu istirahat. Perjalanan dari Batam sampai Kuala Lumpur cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum berangkat ia kerja lembur di sebuah bengkel.
"Bagaimana Dik? Kalau kau mau ayo kita berangkat. Mumpung belum terlalu malam. Atau kau mau tidur di bangku itu, ya tidak apa-apa. Tapi jangan kaget kalau nanti ada operasi polisi dan kau dianggap gelandangan. O ya bisa juga kau menginap di hotel Purduraya ini. Tinggal kau jalan ke atas. Tapi ongkosnya ya lumayan." Mari menjelaskan beberapa pilihan untuk Zul.
Zul masih belum mantap menentukan salah satu pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin harus menghemat.
"Sudahlah Dik ayo ikut saya saja. Besok kau bisa pergi ke mana kau suka. Ayo!" Kata Mari dengan tegas seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata Mari membuat Zul seolah menemukan pilihan terbaik. Ia pun mengikuti langkah Mari. Mereka keluar menyeberangi jalan raya. Mari berjalan dengan cepat meskipun ia harus menyeret tas kopornya. Zul berusaha mengimbangi di sampingnya.
"Kita mampir di supermarket sebentar. Lalu kita ke Terminal Pasar Seni cari bus Rapid KL yang ke Subang."
"Iya Mbak. O iya Mbak ini hand phone-nya nanti lupa."
"Ayo cepat.dikit."
Mereka berjalan menyusuri trotoar. Mari masuk sebuah supermarket dan belanja makanan, sikat gigi, odol, dan sabun mandi cair. Zul menunggu di depan supermarket. Tak lama kemudian mereka kembali berjalan. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di Pasar Seni. Mari langsung naik Rapid KL jurusan Subang. Zul ikut di belakangnya. Setelah membayar karcis mereka duduk. Bus berjalan perlahan.
"Jangan kaget, nanti kau akan tinggal di tengah-tengah tenaga kerja wanita. Artinya penghuni rumah itu semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. Rumah saya dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang pulang ke Indonesia. Jadi saat ini dihuni empat orang. Kau nanti bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya ada kamar mandinya. Jadi kau tidak akan mengganggu teman-teman saya yang lain."
Mari menjelaskan kondisi rumahnya. Zul mendengarkan dengan seksama. la merasa sudah terlalu banyak berhutang budi pada perempuan muda yang baru dikenalnya itu.
"Mbak baik sekali. Entah bagaimana saya harus membalas budi Mbak. Saya malu pada Mbak."
"Jangan berpikir begitu. Kita ini sebagai manusia sudah semestinya saling tolong menolong. Iya tho. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Iya tho Dik. Apalagi kita sama-sama orang Jawa, dan sama-sama orang Indonesia dan sama-sama orang Islam. Sudah jadi kewajibanku membantu adik. Ya anggap saja aku ini kakakmu."
"Iya Mbak. Terima kasih Mbak."
Rapid KL membelah kota Kuala Lumpur. Karena kelelahan Zul tertidur. Cukup pulas. Mari mengamati dengan seksama, anak muda yang duduk di sampingnya itu. Wajah polos khas Jawa. Wajah yang tampak begitu muda. Ada guratan derita di sana. Namun ada juga gurat keberanian dan kenekatan. Mari memperkirakan umur pemuda ini lima tahun lebih muda darinya. la telah masuk dua puluh tujuh. la perkirakan Zul tak lebih dari dua puluh dua.
Setelah satu jam berjalan akhirnya mereka sampai di Subang. Mari membangunkan Zul. Zul bangun dengan tergagap,
"Sudah sampai tho Mbak?"
"Sudah Dik."
Mari turun diikuti Zul.
"Kita perlu jalan kira-kira dua ratus meter baru tiba di rumah. Tak apa ya?"
"Tidak apa Mbak."
Mereka berjalan memasuki kawasan Taman Subang Permai. Selama dalam perjalanan Mari bercerita tentang teman-temannya.
"Rumah saya rumah teras. Rumah teras artinya ya rumah biasa seperti rumah-rumah di Indonesia yang ada terasnya. Bukan rumah apartemen. Saya menyewa bersama teman-teman dari orang China. Rumah itu ada tiga kamar. Kamar paling depan ditempati oleh Linda dan Sumiyati. Linda asli Sukabumi, ia lahir di Amsterdam. Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus jaga iman kalau berhadapan dengannya! Terus teman sekamarnya adalah Sumiyati, asli Blitar. Sumiyati juga sudah bersuami. Kamar tengah saya yang menempati. Saya sekamar dengan Iin. Kami memanggilnya Iin. Nama aslinya Mutmainah. la asli Pati. Iin sudah bersuami dan punya dua anak di Pati. Kamar yang paling belakang saat ini kosong. Yang tinggal di situ adalah Reni dan Watik. Keduanya sedang pulang kampung. Mereka berasal dari satu kampung di Kendal Jawa Tengah. Sebetulnya kau bisa tidur di kamar Reni dan Watik yang kosong. Tapi di kamar itu tidak ada kamar mandinya. Lebih baik nanti kau tidur di kamar saya saja. Biar saya dan Iin yang tidur di kamar Reni."
"Iya Mbak."
"O ya jangan kaget ya. Jika nanti mereka itu banyak bicara. Mereka itu perempuan-perempuan yang paling suka ngobrol dan banyak cerita. Jika kau tidak ingin ngobrol kau nanti langsung saja tidur."
"Iya Mbak."
Lima belas menit berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah, yang tak jauh berbeda dengan perumahan di Indonesia. Hanya pintunya dirangkapi dengan pintu besi. Mari langsung membuka pintu. Dan begitu ia masuk ia langsung disambut histeris temantemannya.
"Oi, Mbak Mar pulang!" teriak seorang perempuan muda yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
"Hei kau bawa teman ya Mar?" tanya perempuan berdaster panjang.
"Iya. Ini, anggap saja adik saya. Namanya Zul. Dia mungkin numpang cuma semalam saja/' jelas Mari.
"Adik apa adik?" ledek perempuan bercelana pendek.
Mari hanya tersenyum kecut.
"Kenalkan saya Zul, dari Demak."
"Saya Sumiyati, dari Blitar." Sahut perempuan bercelana pendek.
"Aku Iin. Soko Pati Mas."1 Perempuan berdaster memperkenalkan diri denganbahasa Jawa. "Yo anggep wae, iki ning ngomahe dewe. Anggep wae ning ngomahe keluarga ne dewe."2
"Inggih matur nuwun Mbak."3 Jawab Zul.
"Si Linda mana?" tanya Mari.
"Seperti biasa Mbak ke KL. Seperempat jam yang lalu ia dijemput sama si Chong Tong," jelas Sumiyati.
"Tak ada kapoknya anak itu!" sahut Mari dengan nada tidak suka.
"Yo mugo-mugo4 Gusti Allah membukakan jalan baginya untuk taubat," lirih Iin.
"Amin!"tukas Mari.
"E... Mas Zul kok berdiri di situ saja. Silakan duduk Mas. Monggo5 Mas." Sumiyati mempersilakan Zul untuk duduk di kursi.
"Ya Mbak terima kasih." Jawab Zul seraya duduk. Sumiyati lalu bergegas ke dapur membuat minuman. Sementara Mari dan Iin masuk ke kamar mereka. Mari meminta Iin membantu merapikan kamar dan tempat tidur. Dan menjelaskan sebaiknya Zul tidur di kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Iin sepakat. Dengan cepat mereka merapikan dan menyimpan pakaian dan perkakas milik kaum perempuan yang tidak sepatutnya dilihat kaum lelaki. Setelah mereka lihat rapi dan mereka teliti tidak ada yang tidak patut, mereka kembali ke ruang tamu dan mempersilakan Zul membawa tasnya ke kamar.

Zul menurut. Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk dan menutup pintu. Zul mencium bau wangi di kamar itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja di Batam. Zul mencopot jaketnya. Beberapa menit kemudian kamarnya diketuk.

Ternyata Mari. Membawa nampan berisi teh hangat dan satu piring roti donat yang tadi dibeli di supermarket.
"Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi ada sikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamu pakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkan di kamar mandi." Jelas Mari sambil meletakkan nampan itu di atas meja rias.
"Terima kasih Mbak."
"Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang. Saya ada di sana."
"Iya Mbak."
"Baik. Selamat istirahat." Kata Mari dengan tersenyum. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
Zul merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu. Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengket dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakan seluruh syaramya. Barulah setelah mandi iabisa istirahat dengan nyaman. Sesaat sebelum tidur kilatan senyum Mari yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tiba-tiba ia teringat perkataan Mari tadi siang,
"Jujur saja Dik ya, hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.

Tiga

Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai, Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi. "Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul setengah menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada kedua-duanya.
"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur. Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"
"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi. Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau masih betah dan mau menginap barang satu dua hari lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas, sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin menyahut.
"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini. Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi saran.
"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya hubungi itu sekali lagi," kata Zul.
"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya," tukas Iin Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun di situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya. Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidak juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang ada di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedang tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati dua perempuan itu telah rapi dan siap pergi.
"Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah, siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dan kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh ya sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan saja yang banyak. Maaf seadanya." Dengan lembut Iin menjelaskan.
"O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia. Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak biru itu," sahut Sumiyati. "Kami pergi dulu ya. Yah demi mencari sesuap nasi Mas." Imbuhnya sambil membuka pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendak membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan Proton Wira berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil itu. la melambaikan tangan pada pengendara mobil yang bermata sipit.
"Baru pulang Lin?" sapa Iin.
"Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel," jawab perempuan itu santai.
Zul melihat dari pintu yang masih terbuka.
"Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikitsedikitlah Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!" Iin menasihati dengan suara lembut.
"Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja. Saya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus istirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa dial?" ketus Linda.
"Itu adik saya dari Demak," jawab Iin.
"Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut santai saja," timpal Sumiyati.
"Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki. Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidak pernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di sini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru tahu rasa!" sengit Linda.
"Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baikbaik ya Lin."
"Ya," jawab Linda singkat sambil beranjak masuk rumah. Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri di samping pintu Linda menyapa datar,
"Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?"
"Iya," jawab Zul singkat.
Linda langsung masuk ke dalam kamarnya. Sementara Zul masih berdiri di samping pintu memandang lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengar dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Linda di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan ia kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajak berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek saja terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikap baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perempuan tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan dari pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar. Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memutuskan akan bersikap bagaimana.
"Mas pintunya ditutup saja. Di sini tidak lazim membuka pintu lama-lama." Seru Linda dari kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Zul berdiri. Secara reflek Zul menengok ke arah suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Linda merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya, dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di kedua kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari kedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang pada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. la ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di pagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang berwajah Indo itu memperkenalkan diri sebagai karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di Kuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda sebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya pusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI. Dari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda memiliki cita-cita yang tinggi. Linda bercerita tentang keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri tempat ia dilahirkan, yaitu Belanda.
"Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak mengenalnya sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan sudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di Belanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang sepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya, atau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan pada saya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu. Pokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya ayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat mengandung saya.
"Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibu saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta dan langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerja di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Saya akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2 di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses, kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemui ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercita-cita harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaan besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Van Braskamp.
"Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorang Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budaya Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda. Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidak meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya. Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah saya itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah saya di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. Kalau Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja di Malaysia ini?"
Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkan kepala lalu menjawab,
"Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti Dik Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayai suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh oleh adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka warung di kampung. Itu saja Dik Linda."
Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,
"Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh Allah. Amin."
Dalam hati ia ikut mengamini. Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberi nomornya dulu.
"Mbak ini nomor hope saya. Siapa tahu Mbak atau teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan tiketkesaya."
Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda. Beberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di Menara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda entraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak shalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai bidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada keelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa sayangnya pada Linda terbit.
Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan
alangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang
di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi.
Kerjanya cuma mengangkat telpon. Lihat layar komputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang harus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang kasar dan pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu.
Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik, pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi. Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs dengan penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh dikerjakan oleh orang desa—dengan wajah pas-pasan—yang hanya lulusan MTs seperti dirinya.
Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai, sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dan setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan.
Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri dan kesucian diri adalah harta paling berharga setelah iman kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapa kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan cara yang paling halus maupun cara yang sangat terangterangan. Baik dengan sindiran maupun ancaman siksa neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan. Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yang turun ke bumi itu telah hilang.
Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda, hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanya Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnya ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhfr zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu dikenal karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak lama dikenal karena kedurhakaannya.
"Na'udzubillahi min dzalik. Ya Rabbi, jauhkanlah hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas dari hati hamba sedetik pun." Doanya dalam hati sambil mengusap airmatanya.
"Kenapa menangis Mbak Iin?" tanya Sumiyati.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda. Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk menjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau bertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di akhirat."
"Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup bersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca Yasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan."
"Hus. Jangan bilang begitu Sum!" bentak Iin,
"Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih mengakui Allah sebagai Tuhannya," lanjutnya.
"Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita ini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Saya takut tergoda Mbak."
"Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kaupupuk. Kita harus sating menguatkan dan mengingatkan. Kita harus sating mengingatkan bahwa perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa itu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang dikehendaki setan. Jangan kita biarkan diri kita terperangkap oleh kesempatan melakukan dosa besar itu. Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada. Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik. Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab, jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuat untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diri adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentuk keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu dan begitu saatnya pulang aku langsung pulang. Tidak berlama-lama ngobrol di tempat kerja."
"Gitu Mbak ya?"
"Iya."
"Wah, untung Mbak kasih tahu. Si Karan itu inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkan sering ngajak nonton film."
"Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun."
"Iya Mbak."
"Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya,
seorang pria muda asal Singapura."
"Cerita detilnya bagaimana Mbak?"
"Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernah menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda yang menawan. Itu saja."
"Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!" teriak Sumiyati.
"Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata berbinar.
Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu menurunkan dan menaikkan penumpang. Kedua perempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut ketinggalan.
* * *
Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar Mari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari Batam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu. Apakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang. Sehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti menunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat, sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah sebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat. Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga, lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan. Seperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mati di Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus lima puluh ringgit?
Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas. Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnya bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apa salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidur seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar. Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpa terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baik padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itu siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan ia telah mendapatkan informasi dan petunjuk yang mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi. Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan kedua matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinya buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Ia langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurus kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalu mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikit keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur. Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatu yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat setumpuk majalah dan koran. Juga ada beberapa buku.
Ia lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa Inggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu tertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China.
Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia ambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game Theory with Applications to Economics. Ia menggelenggelengkan kepala. Orang yang bisa memahami buku seperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka halaman depan. Nama pemilik buku dan tanda tangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI, Kuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu. Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah?
Apakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya tertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang memiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang China? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang menikah dengan perempuan Melayu.
Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi bukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak begitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya jadi satu dengan majalah dan koran di samping meja , rias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang punya dan yang membaca buku-buku ekonomi berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. Melihat tampang dan penampilan mereka sangat meragukan, dan sangat tidak meyakinkan.
la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. la bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadi memejamkan mata.
"Mas! Mas! Halloo! Buka dong!"
Itu jelas suara Linda.
"Iya. Sebentar!" sahutnya sambil bangkit menuju pintu.
Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yang sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saat Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapannya tampak segar, dan menawan. Linda menyungging senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinya belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang ada di hadapannya.
"Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belum kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Linda Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang di Kuala Lumpur." Sapa Linda sambil mengacungkan tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul langsung menjabat tangan itu sambil memperkenalkan dirinya,
"E... nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?"
"Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda- Belanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia. O ya kapan Mas Zul sampai?"
"Tadi malam."
"Berarti bareng Mbak Mar?"
"Ya."
"Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin, benar?"
Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab,
"Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh."
"Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi sebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?"
"Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?"
"Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia kelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya istirahat."
"Jadi siang ini mau di rumah saja?"
"Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali. Mau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita makan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan kan?"
"Belum."
"Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makan di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau minum apa? Aku bikinkan."
"Teh panas boleh."
"Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambil nonton televisi."
"Baik."
Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak lama kemudian Linda muncul dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamar tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku.
Linda meletakkan nampan di meja dan langsung duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda tercium jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan, ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau.
"Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinya sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak."
"E... iya Mbak."
Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuang menata kembali pikirannya yang mulai berpikir yang "Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak ada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film Hollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah. Kalau nonton film sendirian rasanya tidak seru."
"Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya sebenarnya ingin jalan-jalan."
"Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi kurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau Mas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku ada kunci dobel. Sebentar ya."
Linda menghentikan makannya dan beranjak ke kamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci.
"Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa saja kunci ini selama Mas di sini."
"Terima kasih."
"O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana? Sudah ada agen yang mengatur?"
"Belum tahu. Masih mencari."
"O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas mau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?"
"Nanti saya pikirkan."
"Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang banyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena ia juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauh lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satu tahun saja dariku."
"Benarkah?"
"Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir. Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halal tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapa tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. "
"Agama baru?"
"Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segala yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha membebaskan manusia untuk berenak-enak."
"Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enak itu dilarang agama."
"Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu, aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu."
"Wah itu namanya agama hawa nafsu." "Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasa enak, merasa bebas, merasa merdeka."
"Kalau di KTP apa agamamu?"
"Ya Islam."
"Lho kok Islam?"
"Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yang sangat fanatik dengan agama Islamnya."
"Itu berarti kamu munafik."
"Kalau munafik itu enak kenapa tidak?"
Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya. la tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti itu dengan cara berpikir seperti itu.
"Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang pekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita yang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung mendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya adalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya, profesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain bisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan dosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri.

Di pos oleh Arbain Muhayat pada 19 April 2012