Ayat Ayat Cinta P3

“Siapa?”

“Eqbal Hakan Erbakan.”

“La ilaaha illallah!”

“Kenapa?”

“Itu pamanku.”

“So ein zufall!66 ”

“Dunia begitu sempit bukan? Tak kukira kau kenal pamanku.”

“Sampaikan salamku untuknya. Katakan saja dari Fahri Abdullah Shiddiq, teman i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun tahun lalu. Juga sampaikan salamku pada bibimu dan kedua puteranya yang lucu; Amena dan Hasan.”

“Insya Allah dengan senang hati.

Dari kejauhan aku melihat seorang perempuan bule datang.

“Apakah dia Alicia?”

“Kelihatannya.”

Penampilannya memang berbeda dengan waktu aku melihatnya di metro dua hari yang lalu. Sekarang tampak lebih sopan. Memakai hem lengan panjang. Tidak kaos ketat dengan bagian perut terlihat. Ia menyapa kami dengan tersenyum. Aisha menjelaskan waktu yang ada sangat sempit, karena jam setengah dua belas aku harus cabut ke Masjid Indonesia di Dokki. Alicia bisa mengerti dan minta maaf atas keterlambatan. Ia langsung membuka dengan sebuah pertanyaan,

“Begini Fahri, di Barat ada sebuah opini bahwa Islam menyuruh seorang suami memukul isterinya. Katanya suruhan itu terdapat dalam Al-Qur’an. Ini jelas tindakan yang jauh dari beradab. Sangat menghina martabat kaum wanita. Apakah kau bisa menjelaskan masalah ini yang sesungguhnya? Benarkah opini itu, atau bagaimana?”

Aku menghela nafas panjang. Aku tidak kaget dengan pertanyaan Alicia itu. Opini yang sangat mendiskreditkan itu memang seringkali dilontarkan oleh media Barat. Dan karena ketidakmengertiannya akan ajaran Islam yang sesungguhnya banyak masyarakat awam di Barat yang menelan mentah-mentah opini itu. Dengan kemampuan yang ada aku berusaha menjelaskan sebenarnya. Aku berharap Alicia bisa memahami bahasa Inggrisku dengan baik,

Pertama, menasi
“Tidak benar ajaran Islam menyuruh melakukan tindakan tidak beradab itu. Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, ‘La tadhribu imaallah!’67 Maknanya, ‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’ Dalam hadits yang lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada isterinya.68 Dan memang, di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat yang membolehkan seorang suami memukul isterinya. Tapi harus diperhatikan dengan baik untuk isteri macam apa? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk apa? Dan cara memukulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya ayat 34:

“Sebab itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Jadi seorang suami diperbolehkan untuk memukul isterinya yang telah terlihat tanda-tanda nusyuz.”

Alicia menyela, “Nusyuz itu apa?”

“Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang isteri yang tidak bersahabat pada suaminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam satu jasad. Jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengisi, saling memuliakan dan saling menjaga. Isteri yang nusyuz adalah isteri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Isteri yang tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang suami melihat ada gejala isterinya hendak nusyuz, hendak menodai ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an memberikan tuntunan bagaimana seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan isterinya ke jalan yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya. Tuntunan itu ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ Al-Qur’an memberikan tuntunan melalui tiga tahapan, hati isteri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal itu. Kata-kata kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang.

Jika dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan jalan kedua, yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang mulai nusyuz itu bisa merasa dan interospeksi. Seorang isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan mendapatkan teguran jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Dengan teguran ini diharapkan isteri kembali salehah. Dan rumah tangga tetap utuh harmonis.

Namun jika ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu memukul.

Yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara memukul yang dikehendaki Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh memukul dengan syarat:

 Pertama, telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak mempan. Tidak diperbolehkan langsung main pukul. Isteri salah sedikit main pukul. Ini jauh dari Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak bertanggung jawab atas tindakan kelaliman seperti itu.

Kedua, tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah segalanya bagi manusia. Rasulullah melarang memukul muka.

Ketiga, tidak boleh menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam masalah perempuan (isteri). Mereka adalah orang-orang yang membantu kalian. Kalian punya hak pada mereka, yaitu mereka tidak boleh menyentuhkan pada tempat tidur kalian lelaki yang kalian benci. Jika mereka melakukan hal itu maka kalian boleh memukul mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Dan kalian punya kewajiban pada mereka yaitu memberi rizki dan memberi pakaian yang baik.’69 Para ulama ahli fiqih dan ulama tafsir menjelaskan kriteria ‘ghairu mubrah’ atau ‘tidak menyakitkan’ yaitu tidak sampai meninggalkan bekas, tidak sampai membuat tulang retak, dan tidak di bagian tubuh yang berbahaya jika kena pukulan.

Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Qur’an itu dan makna hadits-hadits Rasulullah itu akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran Islam. Apakah seperti yang dituduhkan dan diopinikan di Barat yang menghinakan wanita? Apakah tuntunan mulia seperti itu, yang bertujuan menyelamatkan bahtera rumah tangga karena ada gejala isteri hendak nusyuz, tidak lagi bersahabat pada suaminya, hendak menodai ikatan suci pernikahan dianggap tiada beradab?

Kapan seorang suami diperbolehkan memukul? Pada isteri macam apa? Syaratnya memukulnya apa saja? Tujuannya apa? Itu semua haruslah diperhatikan dengan seksama. Memukul seorang isteri jahat tak tahu diri dengan pukulan yang tidak menyakitkan agar ia sadar kembali demi keutuhan rumah tangga, apakah itu tidak jauh lebih mulia daripada membiarkan isteri berbuat seenak nafsunya dan menghancurkan rumah tangga?

Ya inilah ajaran Islam dalam mensikapi seorang isteri yang berperilaku tidak terpuji. Islam sangat memuliakan perempuan, bahwa di telapak kaki ibulah surga anak lelaki. Hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan wanita. Demikian Islam mengajarkan.”

Rasanya sudah cukup panjang aku menjelaskan. Alicia tampak mengangguk-anggukkan kepala. Sekilas kulihat mata Aisha berkaca-kaca. Entah kenapa. Sebenarnya aku ingin memaparkan ratusan data tentang perlakuan tidak manusiawi orang-orang Eropa pada isteri-isteri mereka. Namun kuurungkan. Biarlah suatu saat nanti sejarah sendiri yang membeberkan pada Alicia dan orang-orang seperti Alicia. Di Inggris, beberapa abad yang lalu isteri tidak hanya boleh dipukul tapi boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling saja. Ada seorang Perdana Menteri Jepang yang mengatakan bahwa cara terbaik memperlakukan wanita adalah dengan menamparnya. Dengan bangga Perdana Menteri itu mengaku sering menampar isteri dan anak perempuannya. Ia bahkan menasihati suami puterinya agar tidak segan-segan menampar isterinya. Untungnya Inggris dan Jepang bukan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Jika mereka negara Islam atau mayoritas penduduknya muslim pastilah protes keras atas perlakuan tidak beradab pada perempuan itu akan datang bagaikan gelombang badai.

Aku menengok jam tangan. Pukul 11.35.

“Maaf. Aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlambat lima menit dari rencana,” ucapku pada Alicia dan Aisha sambil bangkit dari duduk.

“Dari jawaban yang kau berikan aku mendapatkan masukan yang sama sekali baru aku mengerti. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.Tentang Islam memperlakukan perempuan. Tentang Islam memperlakukan non-Islam. Tentang Islam dan perbudakan dan lain sebagainya. Dan aku berharap akan mendapatkan jawaban yang baik dalam perspektif yang adil,” Alicia mengungkapkan harapannya.

“Saya senang berjumpa dengan orang seperti Anda Nona Alicia. Sebisa mungkin saya akan memenuhi harapan Anda itu, insya Allah. Tapi terus terang, bulan ini saya sangat sibuk. Saya harus komitmen dengan jadwal yang telah ada. Anda tentu bisa memaklumi. Apalagi saya sedang menyelesaikan magister saya. Jadi terus terang saya akan berusaha mencuri-curi waktu. Saya ada ide. Bagaimana kalau semua pertanyaan yang ingin Anda sampaikan, Anda tulis saja dalam sebuah kertas. Anda print. Dan nanti serahkan pada saya. Saya akan menjawabnya di sela-sela waktu senggang saya. Jika sudah terjawab semua akan saya serahkan kembali pada Anda. Lalu kita bertemu dalam suatu tempat dan kita diskusikan masalah yang belum clear. Bagaimana?”

“Saya kira ini ide yang bagus. Saya akan tuliskan pertanyaan saya secepatnya. Dalam dunia jurnalistik wawancara tertulis lazim juga digunakan. Terus bagaimana kita bisa bertemu lagi. Meskipun cuma sebentar untuk menyerahkan pertanyaan-pertanyaan saya itu?”

Aku berpikir sesaat. Mengingat jadwal aku keluar.

“Anda sekarang tinggal di mana?” tanyaku setelah aku ingat jadwal keluar dari Hadayek Helwan dalam waktu dekat.

“Saya menginap di Nile Hilton Hotel.”

“Sampai kapan?”

“Kira-kira masih sembilan hari di Mesir.”

“Baik. Bagaimana kalau kita berjumpa besok Senin, tepat pukul sebelas pagi?”

“Okey. Di mana?”

“Di kafetaria National Library. Letaknya di Kornes Nil Street tak jauh dari hotel Anda. Semua orang Mesir di hotel Anda, yang Anda tanya pasti tahu.”

“Baiklah.”

“Aku boleh datang ‘kan?” sela Aisha.

“Tentu saja,” jawabku dan Alicia hampir bersamaan.

“Kalau begitu aku pamit dulu. Bye!”

Aku beranjak pergi meninggalkan keduanya tepat pada saat sebuah metro dari Shubra El-Khaima datang. Perlahan berhenti. Perlahan-lahan terbuka. Kutunggu orang-orang yang turun habis. Baru aku naik. Ada banyak tempat duduk kosong. Aku pilih paling dekat. Duduk melihat ke arah jendela. Masinis membunyikan tanda. Ding dung...ding dung! Tanda metro sebentar lagi berjalan.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang perempuan menyapaku dengan bahasa Arab minta izin duduk, “Hal tasmahuli an ajlis!”

Aku menengok ke asal suara. Perempuan bercadar. Aisha! Aku sedikit kaget. Aku menggeser tempat dudukku. Aisha duduk di sampingku.

“Mau ke mana?” tanyaku. Kali ini kami berbincang dalam bahasa Arab. Aku berusaha menggunakan kalimat-kalimat fusha yang mudah dipahami olehnya. Kuhindari bahasa ‘amiyah sama sekali.

“Aku perlu ikut kamu ke Masjid Indonesia,” jawabnya.

“Untuk apa?”

Metro mulai berjalan. Dua menit lagi metro akan melintas di bawah sungai Nil. Sayangnya pemandangan di luar jendela hanya gelap berseling cahaya lampu neon menempel di dinding terowongan.

“Aku ingin tahu komunitas orang Indonesia di Mesir. Siapa tahu aku bisa dapat bahan untuk tesis psikologi sosial S.2.-ku kelak. Aku lagi melengkapi data tentang masyarakat Jawa. Jadi mumpung ada kesempatan. Aku tidak akan melewatkan begitu saja. Siapa tahu nanti di masjid ada mahasiswi atau muslimah Indonesia, aku bisa kenalan. Dan besok-besok jika aku ada perlu, bisa datang sendiri.”

“O, begitu. Kalau ingin bertemu mahasiswi Indonesia, seandainya di masjid nanti tidak ada, namun semoga ada, insya Allah aku bisa bantu.”

“Terima kasih. Aku dengar dari paman, di Nasr City banyak mahasiswi Indonesia.”

“Benar. Mahasiswa Asia Tenggara mayoritas tinggal di sana.”

“Tadi kau bilang mau buat proposal tesis. Boleh tahu rencananya tema apa yang hendak kau garap?”

“Mungkin Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

“Ulama pembaru dari Turki itu?”

“Benar.”

“Pasti akan sangat menarik. Kebetulan keluarga kami di Turki adalah pengikut setia jamaah Syaikh Said An-Nursi rahimahullah.”

“Aku tahu, Eqbal Hakan pernah cerita padaku.”

“Di rumahnya banyak buku-buku karangan Syaikh An-Nursi.”

“Ya. Suatu saat aku akan ke sana jika aku perlu data tambahan.”

“Apa kau yakin sekarang tidak perlu data tambahan?”

“Untuk sekadar proposal mengajukan judul, konsepnya sudah matang dan tinggal saya ketik. Saya sudah punya empat ratus referensi. Jika diterima oleh tim penilai, barulah perlu bahan selengkap-lengkapnya untuk penyusunan tesis.”

“Semoga diterima. Jika kelak tesismu jadi siapa tahu bisa diterbitkan di Turki.”

“Amin.”

Metro sampai di mahattah Dokki. “Kita turun?” tanya Aisha.

“Tidak, mahattah depan. Tapi tidak ada salahnya siap-siap.”

Kami beranjak ke dekat pintu. Kami berdiri berdekatan. Di kaca pintu metro aku melihat bayanganku sendiri. Sama tingginya dengan Aisha. Mungkin aku lebih tinggi sedikit. Satu atau dua sentimeter saja. Metro berjalan lagi. Tak lama kemudian sampai di mahattah El-Behous. Antara mahattah Dokki dan mahattah El-Behous jaraknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya masih dalam satu kawasan, yaitu kawasan Dokki.

Metro berhenti. Kami turun. Mahattah El-Behous berada sekitar dua puluh lima meter di bawah tanah. Dengan eskalator kami naik ke atas. Kami keluar ke permukaan seperti vampire keluar dari sarangnya di siang bolong. Sinar matahari terasa sangat menyilaukan. Panasnya menyengat dan menyiksa. Cepat-cepat kuambil kaca mata hitam dari tas cangklongku. Lumayan, untuk menyejukkan kornea mata. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju Mousadda Street. Aisha mengimbangi langkah dua meter di belakangku. Kami diam seribu bahasa.

11.30.14 waktu Cairo, kami tiba di Masjid Indonesia yang tak lain adalah lantai dasar sebuah gedung yang disebut Sekolah Indonesia Cairo atau biasa disebut SIC. Lantai dasar itu cukup luas dan benar-benar layak disebut masjid. Beberapa kali Bapak Duta Besar Indonesia di Cairo mengundang diplomat negara lain yang muslim untuk shalat Jum’at di masjid ini. Dari gerbang masjid aku menangkap suara riuh anak-anak mengeja Al-Qur’an. Mereka adalah putera-puteri para pejabat KBRI yang belajar mengaji dibimbing oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. Kupersilakan Aisha masuk.

Kulihat ada dua kelompok anak-anak mengaji. Di sebelah selatan dekat mihrab, kelompok putera dibimbing oleh Fathurrahman dan Hasyim, keduanya mahasiswa Al Azhar yang mengabdikan diri menjadi takmir. Di sebelah utara, kelompok puteri dibimbing oleh seorang perempuan bercadar, aku tidak tahu namanya dan seorang mahasiswi yang aku kenal yaitu Nurul, Ketua Wihdah. Diam-diam aku salut pada Nurul. Meskipun ia jadi ketua umum organisasi mahasiswi Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tidak pernah segan untuk menyempatkan waktunya mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Setelah bersalaman dengan Fathurrahman dan Hasyim, kuajak Aisha menemui Nurul yang sedang mengajar, dan beberapa kali melihat ke arah kami. Mungkin ia heran melihat aku datang bersama seorang perempuan bercadar. Selama ini aku dikenal tidak pernah jalan bersama seorang perempuan mana pun.

Kukenalkan Aisha pada Nurul dan Nurul pada Aisha. Kujelaskan siapa Aisha pada Nurul dan kujelaskan siapa Nurul pada Aisha. Nurul menyambut Aisha dengan senyum mengembang. Setelah mereka berbincang beberapa kalimat, barulah aku minta diri pada mereka untuk mempersiapkan khutbah. Sebelumnya aku jelaskan pada Aisha jika masih ingin berbincang, selepas shalat Jum’at ada waktu, meskipun sebentar.

Meskipun telah mandi, aku merasa perlu mandi lagi agar segar kembali. Musim panas selalu membuatku ingin mandi berkali-kali. Aku langsung ke ruang takmir yang tidak asing lagi bagiku. Melepas pakaian ganti sarung dan mandi. Masjid ini bisa dikatakan sangat lengkap peralatannya. Mulai dari peralatan ibadah, sound system, dan lain sebagainya. Bahkan peralatan dapur pun ada. Masjid memiliki dapur yang integral dengan dapur SIC. Memang kelebihan materi jika dialirkan untuk ibadah membuat segalanya jadi indah. Usai mandi aku kembali ke kamar takmir. Hasyim meminjamkan sarung baru, jas, serban dan kopiah putih. Aku memang sudah memesannya Jum’at yang lalu. Hasyim sudah paham, di antara sekian banyak mahasiswa yang mendapat jadwal khutbah hanya aku yang paling aneh. Datang memakai pakaian santai. Mandi dan merapikan diri di masjid. Sebab perjalanan dari Hadayek Helwan sampai Dokki cukup memakan waktu. Aku tidak mau ribet.

Pukul 12.00 pengajian anak-anak selesai. Pukul 12.20 Hasyim membaca Al-Qur’an dengan mujawwad menunggu jamaah datang. Pukul 12.35 ritual ibadah shalat Jum’at di mulai. Bapak Duta ada di barisan ketiga. Beliau datang agak terlambat. Tema khutbah yang diberikan takmir kepadaku adalah ‘Indahnya Cinta Karena Allah.’ Selesai pukul 13.20. Kami lalu makan bersama di belakang masjid. Menunya adalah Coto Makasar dan Es Buah.

Usai makan aku mendekati Aisha dan Nurul untuk pamitan. Kutanyakan pada Aisha apa masih ada yang bisa kubantu. Sebuah pertanyaan basa-basi. Dia bilang tidak. Kutanyakan apa mau pulang bersama. Sebab jalurnya sama. Sekali lagi sebuah pertanyaan basa-basi. Dia jawab masih ada yang dibicarakan dengan Nurul. Lalu Aku teringat Noura.

“Nur, bagaimana kabar Noura?”

“Dia sudah mulai dekat dengan kita-kita dan bisa tertawa.”

“Dia cerita tentang dirinya nggak?”

“Ya. Tapi baru sebatas sekolahnya.”

“Tentang perlakuan keluarganya padanya?”

“Belum.”

“Tolong dekati dia. Sepertinya dia memendam masalah serius. Perlakuan keluarganya selama ini tidak wajar. Kata Tuan Boutros, kita tidak akan bisa membantu kalau dia tidak jujur menjelaskan masalahnya. Kenapa malam-malam sampai dicambuk dan diusir ayahnya. Dia cerita pada Maria, ayah dan dua kakak perempuan menyuruh dia melakukan suatu pekerjaan yang dia tidak bisa melakukannya. Pekerjaan apa itu? Dan kenapa dia tidak bisa melakukannya? Apa masalah dia sesungguhnya. Kalau ayahnya menuntut dia harus kerja untuk dapat uang, Madame Nahed, ibunya Maria menawarkan dia bisa kerja di kliniknya sore hari. Tolong Nur, kau dekati dia dan bicaralah dari hati ke hati. Aku paling tidak tahan kalau melihat ada orang tertindas dan menderita di depan mataku.”

“Insya Allah Kak.”

“Oh ya, ini, untuk biaya makan Noura satu bulan. Semoga cukup,” aku mengulurkan amplop yang baru kuterima dari takmir.

“Tidak usah Kak.”

“Sudah jangan pakewuh. Kita sama-sama mahasiswa. Kita makan juga iuran. Kalau uang dapur ngepres kita juga ketar-ketir. Ayo terimalah! Apalagi Noura orang Mesir, dia tidak bisa selalu makan masakan kalian. Dia harus makan makanan Mesir dan itu perlu biaya ‘kan? Terimalah!”

Akhirnya Nurul mau menerimanya.

Bagaimana mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih juga membebankan biaya pada mereka. Dakwah ya dakwah. Ibadah ya ibadah. Tapi elokkah ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain?

Aku jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi. Ketika akan berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu Bakar. Namun beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima dengan syarat onta itu beliau beli. Abu Bakar inginnya memberikan secara cuma-cuma untuk perjalanan hijrah Nabi. Tapi baginda Nabi tidak mau beban sarana dakwah dipikul oleh Abu Bakar yang tak lain adalah umatnya. Baginda Nabi tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain. Abu Bakar punya keluarga yang harus dihidupi. Dakwah harus berjalan profesional meskipun pengorbanan-pengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi mencontohkan profesional dalam berdakwah. Beliau tidak mau menerima onta Abu Bakar kecuali dibayar harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti keinginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barulah keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren.

Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Banyak orang lalai, bahwa baginda Nabi tidak pernah membacakan kitab kuning. Dakwah nabi dengan perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan khutbah dan perkataan. Ummul Mu’minin, Aisyah ra. berkata, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an!” Nabi adalah Al-Qur’an berjalan. Nabi tidak canggung mencari kayu bakar untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al-Qur’an berjalan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab untuk dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi. Menuntut orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri.

“Nanti kalau ada apa-apa, atau ada yang kurang bilang saja. Juga kalau Noura sudah menceritakan masalahnya, langsung kontak secepatnya!” kataku pada Nurul.

Nurul mengangguk. Aku minta diri. Aku berdoa semoga masalah Noura segera selesai dan gadis malang itu tidak lagi menanggung derita yang mengenaskan. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyambuk anak gadisnya sampai mengelupas punggungnya. Di mana rasa kasih sayangnya? Apakah dia tiada pernah mendengar sabda nabi, siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang dia tidak akan disayang oleh Allah?

* * *

Dari El-Behous aku langsung ke Attaba. Aku harus mencari hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef menyambut hari istimewa mereka. Meskipun sederhana, pasti akan jadi kejutan tersendiri, bahwa tetangganya dari Indonesia memberikan hadiah yang tiada disangka.

Aku ingat acara dunia wanita yang ditayangkan Nile TV. Di antara benda-benda yang disukai wanita adalah tas tangan. Kurasa tidak salah kalau aku menghadiahi Madame Nahed dengan tas tangan. Dan untuk Yousef aku akan belikan kaset percakapan bahasa Perancis dan kamusnya. Kuharap dia senang. Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil sastra Perancis.

Attaba adalah pasar rakyat terbesar di Mesir. Semua ada. Harganya relatif lebih murah dibandingkan tempat yang lain. Meskipun begitu, seni menawar dan bergurau tetap penting untuk memperoleh harga miring. Orang Mesir paling suka dengan lelucon dan guyonan. Teater rakyat di Mesir sampai sekarang masih eksis, penontonnya selalu penuh melebihi gedung bioskop. Itu karena sandiwara humornya. Film Shaidi Fi Jamiah Amrika atau ‘Orang Kampung di Universitas Amerika’ adalah film yang sukses besar karena kocaknya. Mona Zaki bintang Lux Mesir itu tampil kocak di film itu. Aku sering mengumpulkan pepatah-pepatah kocak Mesir yang membuat orang Mesir akan terkaget dan tertawa saat kuajak bicara. Mereka akan terheran-heran aku dapat pepatah itu dari mana. Universitas Al Azhar tidak mungkin mengajarkannya. Pernah, seorang pedagang gendut yang kelihatannya enak diajak guyon kusapa dengan ‘Ya Kapten, kaif hal waz zaman syurumburum!” 70 Ia kaget dan terheran-heran. Aku tertawa dia pun tertawa. Kata-kata syurumburum adalah kata-kata aneh. Cara menyapa aneh ini aku dapat dari seorang pemilik qahwaji71di Sayyeda Zaenab.

Ohoi, sebetulnya hidup di Mesir sangat menyenangkan. Penuh seni dan hal-hal mengejutkan.

Di toko tas dan sepatu milik seorang lelaki muda bermuka bundar aku berhasil membawa tas tangan putih cantik dengan harga 50 pound. Padahal di tiga toko sebelumnya tas yang sama merk dan bentuknya tidak boleh 70 pound. Itu karena guyonan renyah. Ketika berbincang-bincang aku tahu dia penggemar aktor komedi legendaris Ismael Yaseen. Kubilang padanya aku ini cucu Ismael Yaseen.

Lalu aku perlihatkan tingkah, mimik dan gaya bicara seperti Ismael Yasin. Dia terpingkal. Dan tas itu pun kena. Setelah dapat tas aku mencari kaset dan kamus untuk Yousef. Kutemukan yang murah di toko kaset Sono Cairo. Dalam perjalanan pulang di dalam metro ada anak kecil berjualan koran. Aku ambil dua, Ahram dan Akhbar El-Yaum.

Menjelang Ashar aku tiba di flat dengan tenaga yang nyaris habis dan darah menguap kepanasan. Benar-benar lemas. Rudi tahu aku pulang dan sangat kelelahan. Ia membawakan segelas karikade dingin. Rasanya sangat segar. Meskipun Rudi orang Medan yang kalau berbicara tidak bisa sehalus orang Jawa, tapi hatinya halus dan penuh pengertian. Melihat bungkusan yang aku bawa dia penasaran. Ia minta izin membukanya. Dia kaget aku beli tas wanita.

“Untuk siapa ini Mas? Sudah punya calon rupanya? Diam-diam menghanyutkan. Tapi memang sudah saatnya. Oh iya, tadi Nurul nelpon. Jangan-jangan dia nih calonnya. Terus ini beli kaset percakapan bahasa Perancis segala, memangnya mau S.3. ke Sorbonne apa? Aku jadi ingat wawancara di bulletin Citra bulan lalu, Si Ketua Wihdah itu katanya juga sedang kursus bahasa Perancis di Ain Syams. Pas buanget. Benarlah kata orang Inggris, love and a cough cannot be hid. Cinta dan batuk tidak dapat disembunyikan!”

“Sudahlah Akhi. Aku lagi capek sekali. Nanti habis maghrib aku jelaskan semua. Tidak usah berprasangka yang bukan-bukan.”

Anak muda di mana-mana sama.

Mataku sudah liyer-liyer. Rudi bangkit, “Akh, aku istirahat sebentar. Jam lima seperempat dibangunkan ya?”

“Kalau ada telpon dari Nurul bagaimana?”

“Sudah jangan terus menggoda.”

“Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise, she will be a good wife!”

Anak ini kalau menggoda tak ada habisnya. Agak keterlaluan sebenarnya. Tapi aku malas meladeninya. Aku memejamkan mata. Tak perlu kutanggapi sekarang, nanti juga dia akan tahu yang sesungguhnya.

6. Hadiah Perekat Jiwa

Senja musim panas sungguh indah meskipun tetap tidak seindah musim semi. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Semburat mega kemerahan menghiasi langit. Bau uap pasir masih terasa. Angin bertiup semilir seolah menghapus hawa panas. Jendela Maria kelihatannya juga terbuka. Habis maghrib paling enak memang membuka jendela. Membiarkan angin semilir mengalir. Sayup-sayup aku mendengar Maria bernyanyi.

Kalimatin laisat kal kalimaat!

Ia melantunkan lagu Majida Rumi dengan sangat indah. Suara Maria memang seindah suara penyanyi tersohor dari Lebanon itu.

Di kamar sebelah Saiful masih membaca An-Naml. Spontan aku menangkap makna ayat-ayat yang dibaca Saiful. Seekor semut berseru pada teman-temannya, “Hai semut-semut sekalian cepat masuklah ke dalam liang kalian. Sebentar lagi Sulaiman dan bala tentaranya akan lewat, kalian bisa terinjak kaki mereka dan mereka sama sekali tidak merasa menginjak kalian!” Nabi Sulaiman ternyata mendengar dan mengerti apa yang diucapkan semut itu. Nabi Sulaiman tersenyum. Aku pun tersenyum.

Aku duduk di depan meja belajar. Menulis beberapa baris kalimat indah untuk Yousef dan Madame Nahed dalam dua kertas berbeda. Masing-masing kumasukkan amplop. Dan kumasukkan dalam dua kardus kecil yang siap kubungkus. Hamdi dan Rudi masuk.

“Katanya mau membuat konferensi pers Mas?” canda Hamdi. Rudi cengar-cengir.

“Panggil Saiful sekalian!” sahutku tenang. Agaknya Saiful mendengar pembicaraan kami. Dia menyudahi bacaan Al-Qur’annya dan menyahut, “I’m coming!”

“Rud, tolong sambil kau bantu membungkus yang satu! Kau ‘kan jagonya membungkus kado,” pintaku pada Rudi.

“Beres Mas.”

Sambil membungkus kado aku menjelaskan untuk siapa kado ini sebenarnya. “Kita mengamalkan hadits Nabi, Tahaadu tahaabbu! Salinglah kalian memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai! Ini waktu yang tepat untuk memberikan kejutan pada tetangga kita yang baik itu. Mereka sering sekali memberi makanan dan minuman kepada kita. Mereka juga perhatian pada kita. Jadi begitu sesungguhnya. Bukan untuk calon isteri. Jangan berprasangka sebab sebagian prasangka itu dosa!”

Mereka semua menganggukkan kepala. Rudi minta maaf. Kubalas dengan senyum.

“Kapan kado ini akan disampaikan Mas?” tanya Saiful.

“Insya Allah nanti menjelang mereka tidur,” jawabku.

“Bagaimana kita tahu mereka mau tidur?” sahut Hamdi.

“Jika aku mendengar Maria menutup jendela, biasanya dia siap untuk tidur. Dan Maria bilang mamanya selalu tidurnya lebih lambat darinya.”

* * *

Kira-kira pukul sebelas kudengar suara jendela ditutup. Itu Maria. Dua menit kemudian kukirim pesan ke nomor handphone-nya:

“Kalau mau tidur jangan lupa doa! Semoga mimpi bertemu Al-Masih.”

Tak lama kemudian datang balasan,

“Bagaimana kamu tahu aku akan tidur?”

Kujawab,

“Firasat orang beriman banyak benarnya.”

“Kau benar. Selamat malam.”

Saatnya telah tiba.

Kuajak teman-teman semua ke atas. Ke rumah Maria. Aku yakin Yousef dan Madame Nahed belum tidur. Tuan Boutros mungkin baru akan tidur. Kami menekan bel dua kali. Yousef membuka pintu dan melongok.

“Oh kalian. Ada perlu?” tanya Yousef. Ia belum melihat hadiah yang kami bawa.

“Mama ada? Kami perlu bicara dengan beliau,” tukasku.

“Ayo masuk.”

Yousef ke dalam memanggil mamanya. Tak lama kemudian Madame Nahed keluar dengan sedikit kaget. Biasanya kami selalu berurusan dengan Tuan Boutros atau Maria. Jarang sekali dengan beliau.

“Malam-malam begini mencari saya ada apa ya? Apa ada yang sakit?” tanya beliau yang memang seorang dokter, tapi tidak praktek di rumah.

“Maafkan kami Madame, jika kedatangan kami mengganggu. Kami datang untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormat kami pada keluarga ini. Kebetulan kami telah menyiapkan hadiah ala kadarnya. Ini untuk Madame dan yang satunya untuk Yousef. Hadiah sederhana untuk ulang tahun Madame dan Yousef. Kami mendoakan semoga Madame dan Yousef bahagia dan berjaya.” Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan teman-teman.

Madame Nahed benar-benar terkejut. Ia menerima hadiah itu dengan mata berkaca-kaca. Yousef mengucapkan terima kasih tiada terhingga. Setelah itu kami mohon diri meskipun Madame Nahed ingin kami minum kopi dulu.

“Kami tahu sudah saatnya istirahat. Kami tidak ingin istirahat Madame dan Yousef terganggu.”

Madame Nahed tidak bisa mengucapkan apa-apa kecuali terima kasih berkali-kali. Saat kami menuruni tangga, kami mendengar Madame Nahed berteriak-teriak senang memanggil Maria dan Tuan Boutros. Selanjutkan kami tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah Madame Nahed itu.

Ketika aku bersiap untuk tidur, handphone-ku memekik. Ada pesan masuk. Kubaca. Dari Maria,

“Apa yang kalian lakukan sampai membuat Mama menangis haru?”

Aku merasa tidak perlu menjawab. Hatiku mengucapkah puji syukur kepada Tuhan berkali-kali. Tidak sia-sia rasanya panas-panas ke Attaba.

Maria kembali mengirim pesan,

“Hai orang Indonesia, kenapa tidak dijawab? Kau sudah tidur ya?”

Aku jawab, “Ya.”

Apa pesan masuk lagi. Tidak kulihat. Aku harus istirahat. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca aku belum pernah memberikan kado pada ibuku sendiri di Indonesia. Sebelum kenal Kairo aku adalah orang desa yang tidak kenal yang namanya kado. Di desa hadiah adalah membagi rizki pada tetangga agar semua mencicipi suatu nikmat anugerah Gusti Allah. Jika ada yang panen mangga ya semua tetangga dikasih biar ikut merasakan. Ulang tahun tidak pernah diingat-ingat oleh orang desa. Yang diingat adalah netu, atau hari lahir menurut hitungan Jawa, misalnya Kamis Pon, Jum’at Wage dan seterusnya. Pada hari itu, seperti yang kuingat waktu kecil dulu, ibu akan membuat bubur merah atau makanan lengkap dengan lauk-pauknya di letakkan di atas tampah yang telah dialasi dengan daun pisang. Tampah adalah wadah seperti nampan bundar besar yang terbuat dari bambu Di bawah daun pisang ibu meletakkan uang recehan banyak sekali. Setelah siap semua teman-temanku dipanggil untuk makan bersama.

Sebelum makan ibu mengingatkan agar kami tidak lupa membaca basmalah bersama. Jika Mbah San kebetulan ada, ibu akan minta Mbak Ehsan berdoa dan kami, anak-anak, mengamininya. Barulah kami makan berramai-ramai. Setelah makanannya habis kami akan membuka daun pisang yang tadi dibuat alas makan. Lalu kami berebutan mengambil uang receh dengan serunya. Semua kebagian. Sebab jika ada yang dapat uang lebih dan ada yang tidak dapat maka sudah jadi kewajiban yang dapat lebih untuk membaginya pada yang tidak dapat. Biasanya ibu sudah menghitung jumlah anak yang akan diundang dan uangnya sesuai dengan jumlah anak itu. Jadi semuanya dapat jatah sama. Sebenarnya kami tahu jatah uang logamnya satu-satu. Tapi selalu saja dibuat rebutan dahulu. Masa kecil yang seru. Begitulah cara ibu-ibu di desaku menyenangkan hati anak-anak kecil. Kenangan indah yang tiada terlupakan. Lebih indah dari pesta meniup lilin dan bernyanyi happy bird day to you.

Pernah ada kiai muda dalam suatu pengajian di surau melarang ibu-ibu membuat pesta untuk anak-anak seperti itu. Katanya itu bid’ah. Ibu-ibu bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren Mambaul Ulum Surakarta itu hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak bid’ah, malah dapat pahala menyenangkan anak kecil. Kanjeng Nabi adalah teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil.

Ketika aku sudah sampai Mesir, dan setelah membaca kitab Al I’tisham karangan Imam Syathibi dan kitab As-Sunnah Wal Bid’ah yang ditulis Syaikh Yusuf Qaradhawi aku merenungkan kembali jawaban Mbah Ehsan. Sungguh suatu jawaban yang sangat arif. Sungguh tidak mudah untuk membid’ahkan suatu perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sungguh tidak bijak bertindak sembarangan menghukumi orang.

Pada kenyataannya, ibu-ibu di desa tidak pernah menganggap pesta pada netu anaknya sebagai suatu kewajiban agama yang harus dilakukan. Yang jika dilakukan dapat pahala jika tidak dapat dosa. Atau sebagai ibadah sunah, jika dilakukan dapat pahala jika ditinggal tidak apa-apa. Tidak ada anggapan itu masuk bagian dari ajaran agama. Apa yang dilakukan ibu-ibu di desa tak lebih dari ungkapan rasa sayangnya pada anaknya. Ia ingin anaknya merasa senang. Dan teman anak-anaknya juga senang. Itu saja.

Orang desa adalah orang yang hidupnya susah dan pas-pasan. Jika punya kelebihan rizki sedikit saja ingin berbagi kepada sesama. Ibu-ibu ingin menanamkan hal itu dalam jiwa anak-anaknya. Ketika seorang ibu di desa memiliki rizki ia ingin membahagiakan anaknya. Membuatkan sesuatu yang istimewa untuk anaknya. Tapi ia juga ingin anaknya membagi kebahagiaan dengan teman-temannya. Maka dibuatlah makanan yang agak banyak untuk dibancak bersama-sama. Adapun itu dipaskan dengan hari netu anaknya adalah agar anaknya merasa memiliki sesuatu istimewa. Ia merasa dihormati, dicintai dan disayangi. Hari itu ia merasa memiliki rasa percaya diri. Ia merasa ada sebagai manusia. Ia didoakan oleh teman-temannya yang mengamini doa Mbah Ehsan. Atau ia merasa ketika seluruh teman-temannya membaca basmalah bersama-sama, itu adalah doa mereka untuk dirinya. Pada hari itu anak orang paling miskin di suatu desa sekalipun akan tumbuh rasa percaya dirinya. Sebab anak orang kaya ikut serta makan satu nampan dengan seluruh anak-anak yang ada. Anak orang kaya makan pada nampan yang dibuat ibunya untuk dirinya pada hari istimewanya. Ia tidak merasa rendah diri. Seluruh anak-anak desa merasa sama. Makan bersama. Cuil mencuil tempe. Saling tarik menarik secuil rambak. Dan tertawa bersama. Lalu rebutan uang receh dan saling berbagi. Orang-orang desa adalah orang-orang susah dan mereka kaya akan cara menutupi kesusahan mereka dan menyulapnya menjadi kebahagian yang bisa dirasakan bersama-sama.

* * *

Pagi usai shalat shubuh ada orang menekan bel. Ternyata Yousef. Ia datang untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih dan mengabarkan kami sesuatu,

“Mama ingin membuat pesta ulang tahun kami berdua di sebuah Villa di Alexandria. Kalian satu rumah kami undang. Semua ongkos perjalanan jangan dipikirkan Mama sudah siapkan,” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Kulihat wajah teman-teman cerah. Wisata gratis ke Alexandria siapa tidak mau. Lain dengan diriku. Bulan ini jadwalku padat sekali. Terjemahan belum selesai. Proposal tesis. Mengaji dengan Syaikh Utsman yang sangat sayang jika aku tinggalkan, meskipun cuma satu hari. Dan lain sebagainya. Aku merasa tidak bisa ikut. Tapi aku pura-pura bertanya,

“Kapan?”

“Minggu depan. Menurut ramalan cuaca sudah tidak terlalu panas. Rencananya berangkat Sabtu, setengah dua siang. Menginap di sana semalam. Minggu sore sebelum maghrib baru pulang. Bagaimana, kalian bisa ‘kan? Kalian ‘kan masih libur?” kata Yousef.

Meskipun wajah teman-teman tampak cerah, tapi mereka tidak spontan menjawab. Mereka sangat menghargai diriku sebagai kepala rumah tangga dan sebagai yang tertua.

“Kurasa teman-teman bisa ikut. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa. Sebab jadwal saya padat sekali. Terus terang saya sedang menyelesaikan proyek terjemahan dan sedang menggarap proposal tesis. Sampaikan hal ini pada Mama ya?” jawabku.

“Mas, kenapa tidak diluangkan satu hari saja sih. Kasihan mereka ‘kan?” sahut Rudi.

“Rud, semua orang punya skala prioritas. Banyak hal penting di hadapan kita, tapi kita tentu memilih yang paling penting dari yang penting. Aku punya kewajiban menyelesaikan kontrak. Itu yang harus aku dahulukan daripada ikut ke Alex. Jika ada rencana yang tertunda dua hari saja, maka akan banyak rencana yang rusak. Tolonglah pahami aku. Silakan kalian ikut aku tidak apa-apa. Sungguh!” jelasku mohon pengertian teman-teman satu rumah. Yousef mengerti semua yang aku katakan sebab Rudi dan aku mengatakannya dalam bahasa Arab.

“Baiklah. Akan aku sampaikan ini pada Mama,” ujar Yousef sambil bangkit minta diri. Aku beranjak ke kamar untuk menyalakan komputer.

Sementara Saiful ke dapur untuk piket masak. Rudi dan Hamdi tetap di ruang tamu membaca-baca koran yang kemarin kubeli.

Baru saja aku mengetik tujuh baris. Bel kembali berbunyi.

“Mas Fahri, Yousef!” teriak Hamdi.

Aku bergegas ke depan.

“Begini Fahri. Setelah aku beritahukan semuanya, Mama memutuskan untuk membatalkan rencana ke Alex,” ucap Yousef dengan kerut muka sedikit kecewa.

“Kenapa?”

“Karena kau tidak bisa ikut.”

“Kan acara tetap bisa berjalan dengan baik tanpa keikutsertaanku.”

“Pokoknya itu keputusan mama.”

“Ana asif jiddan! Wallahi, ana asif jiddan!72” ucapku sedih. Sebetulnya aku tidak ingin mengecewakan siapapun juga.

“Tak apa-apa. Mama ingin menggantinya dengan sebuah acara yang tidak akan menyita waktu banyak. Dan untuk acara ini mama minta dengan sangat kalian bisa ikut semua. Sekali lagi dengan sepenuh permohonan, tidak boleh ada yang tidak bisa.”

“Acaranya apa, dan kapan?”

“Kami sekeluarga akan mengajak kalian sekeluarga ke sebuah restaurant di Maadi untuk makan malam. Kalian tidak boleh menolak. Begitu pesan mama.”

Aku berpikir sejenak.

“Sudahlah Mas. Untuk yang ini sedikit toleranlah. Masak jadwal menerjemahnya ketat buanget sih!” desak Hamdi.

“Baiklah. Insya Allah, kami sekeluarga bisa. Jam berapa kita berangkat?” kulihat wajah Yousef lebih cerah. Ia tersenyum.

“Setelah kalian shalat maghrib kita langsung berangkat. Biar tidak kemalaman,” ucapnya senang.

“Waktu yang tepat sekali,” gumamku.

“Kalau begitu aku naik dulu. Terima kasih atas kesediaannya.”

“Terima kasih atas ajakannya.”


Hamdi, Rudi, dan Saiful tersenyum riang.

“Wah lumayan. Pengiritan uang dapur,” kata Saiful.

“Sekali-kali kita makan di restaurant mewah, masak cuma bisa makan qibdah 35 piaster,” sahut Rudi.

“Memang enaknya punya tetangga baik,” tukas Hamdi.

“ Hei, jangan lupa sama teman. Si Mishbah diberi tahu suruh pulang. Harus sampai rumah sebelum maghrib.” Selorohku sambil berjalan masuk kamar untuk kembali menerjemah. Tak lama kemudian kudengar Si Hamdi berbicara di telpon. Mishbah akan pulang selepas shalat ashar.

Baru lima halaman Rudi berteriak, “Mas Fahri telpon from the true coise!” Rudi itu masih meledek aku rupanya ia menyebut Nurul “the true coise”. The true coise bagi siapa? Aku mendesah panjang. Pagi-pagi mau tenang sedikit saja tidak bisa. Kuangkat gagang telpon, “Halo. Siapa ya?”

“Alah, udah tahu pura-pura tanya pula!” celetuk Rudi dengan logat Medannya yang membuat telingaku terasa gatal. Anak ini resek sekali.

“Ini Nurul. Ini dengan Kak Fahri ya?” suara di seberang sana.

“Ya. Kemarin katanya nelpon ya?Ada apa?”

“Ah enggak. Kemarin sebetulnya ada yang ingin Nurul tanyakan, tapi jawabannya sudah ketemu.”

“Lha ini nelpon ada apa?”

“Tentang Noura.”

“Ada apa dengan Noura?”

“Tadi malam dia sudah menceritakan semuanya pada saya. Dia memang gadis yang malang. Ceritanya sangat mengenaskan.”

“Bagaimana ceritanya?”

“Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Sangat panjang.”

“Oh aku paham. Kau tutup saja telponmu. Biar aku yang telpon.”

“Bukan pulsa masalahnya Kak.”

“Terus enaknya bagaimana?”

“Sore nanti kami, pengurus Wihdah diundang Pak Atdikbud di rumahnya yang dekat SIC. Kakak bisa nggak ke SIC jam lima?”

“Sayang nggak bisa Nur.”

“Terus bagaimana?”

“Minggu-minggu ini jadwalku padat. Susah meluangkan waktu buat appoinment baru. Bagaimana kalau segala yang diceritakan Noura kau tulis saja semuanya. Pakai tulisan tangan tidak apa-apa. Kulihat cerpenmu pernah nampang di bulletin Citra. Kayaknya lebih praktis. Lebih enak. Tapi kalau bisa secepatnya.”

“Akan Nurul usahakan. Kapan Kakak ingin mengambilnya?”

Aku berpikir sejenak. Kapan aku akan keluar ke Nasr City. Satu minggu lagi. Terlalu lama. Oh ya, aku ingat, Mishbah masih di wisma dia akan pulang selepas shalat ashar. Dan Rudi setelah makan pagi nanti akan pergi ke Wisma untuk diskusi.

“Kalau kau bisa menulisnya sekarang juga, habis zhuhur aku bisa minta teman untuk mengambilnya.”

“Insya Allah bisa. Siapa nanti yang mengambil Kak?”

“Kalau tidak Mishbah ya Rudi.”

“Bilang jangan lebih jam tiga. Aku sudah tidak dirumah. Itu saja Kak ya.”

“Terima kasih Nur.”

“Kembali.”

Aku menutup gagang telpon dengan hati penasaran. Apa sesungguhnya yang dialami oleh gadis Mesir yang lemah lembut bernama Noura itu. Aku berharap nanti sore atau nanti malam sudah mengetahuinya.


7. Di Cleopatra Restaurant


“Dia benar-benar anak pelacur sial! Dia benar-benar anak setan! Anak tak tahu diuntung. Kalau sampai tampak batang hidungnya akan kurajah-rajah mukanya biar tahu rasa!”

Kami mendengar Si Muka Dingin Bahadur menyumpah serapah dari dalam flatnya dengan suara seperti guntur. Entah ada apa lagi. Lalu kami mendengar suara perempuan membentak tak kalah sengitnya. Ia menyalahkan Si Muka Dingin dan memakinya habis-habisan. Itu mungkin suara Madame Syaima, isteri Si Muka Dingin. Madame Syaima tidak terima dibilang pelacur. Lalu terdengar tamparan dan jeritan. Beberapa barang pecah. Kami berlima sudah sampai di halaman. Baru Yousef yang turun menyusul. Pakaiannya fungky betul. Tuan Boutros, Madame Nahed dan Maria belum turun.

“Maaf ya agak terlambat. Biasa, perempuan dandan dulu,” kata Yousef.

Kami manggut-manggut saja. Tak lama kemudian Tuan Boutros, Madame Nahed dan Maria tampak menuruni tangga apartemen satu persatu. Mereka berjalan mendekati kami. Tuan Boutros tampak lebih muda dari biasanya. Ia memakai kemeja warna krem dengan lengan dilingkis. Madame Nahed berpenampilan seperti aristokrat Perancis. Pafumnya menyengat. Ini yang aku tidak suka. Wanita Mesir kalau memakai parfum seolah harus tercium dari jarak seratus meter. Yang paling menawan tentu saja Maria. Dengan gaun malam merah tua dan menggelung rambutnya ia terlihat sangat cantik. Wajah pualamnya seperti bersinar di kegelapan malam. Mereka benar-benar siap ke pesta. Kami berlima berpakaian biasa saja. Si Rudi malah memakai celana trening warna biru muda. Trening yang terkadang buat main sepak bola. Memang benar-benar seadanya.

Tuan Boutros mengatur siapa yang ikut mobilnya dan siapa yang ikut mobil Yousef. Keluarga itu memang memiliki dua mobil. Jeep Cheroke hijau metalik yang biasa dibawa Tuan Boutos kerja dan sedan forsa hitam yang seringkali dibawa Yousef. Empat orang dari kami ikut mobil Yousef. Madame Nahed dan Maria ikut Tuan Boutros. Aku melangkah ke arah mobil Yousef. Namun Tuan Boutros memanggil, “Fahri, kau ikut aku!”

“Ya, kau naik sini Fahri!” seru Madame Nahed.

Terpaksa aku belok ke mobil Cheeroke. Madame Nahed naik di depan dan duduk di samping Tuan Boutros. Maria di belakang. Masak aku harus duduk di samping Maria. Dan parfumnya itu. Nuraniku tidak setuju. Satu mobil tak apa tapi selama tempat duduk bisa di atur lebih aman di hati kenapa tidak. Aku mendekati Madame Nahed dan berbicara dengan halus,

“Maaf Madame, boleh saya duduk di depan. Saya ingin berbincang-bincang dengan Tuan Boutros selama dalam perjalanan.”

Madame Nahed tersenyum, “Oh ya, dengan senang hati.”

Dia lalu turun dan pindah ke belakang duduk di samping puterinya. Aku naik dan duduk di samping Tuan Boutros. Belum sempat Tuan Boutros menyalakan mesin terdengar suara Si Muka Dingin memanggil dengan suara mengguntur,

“Hai Boutros tunggu!”

Kami semua menoleh ke asal suara. Si Muka Dingin datang dengan tergopoh.

“Di mana Noura kau sembunyikan, Boutros!”

Kami berpandangan. Si Muka Dingin telah berdiri di dekat Tuan Boutros. Dengan tenang Tuan Boutros menjawab, “Apa saya tidak memiliki urusan yang lebih penting dari mengurusi anakmu, heh?”

“Kau pasti tahu di mana Noura berada?”

“Siapa yang peduli dengan anakmu?”

“Malam itu sebelum tidur Mona melihat Maria turun menghibur Noura di jalan. Kalian pasti tahu sekarang di mana Noura berada!”

“Malam itu malam itu apa? Aku tidak tahu! Kalau begitu tanya saja sama Maria. Jangan tanya aku!”

“Hai Maria bicara kau! Kalau tidak kusumpal mulutmu dengan sandal!” si Muka Dingin menyalak keras seperti anjing.

Dadaku panas sekali mendengar kalimat Si Muka Dingin yang tidak tahu sopan santun ini. Tuan Boutros kulihat menggerutukkan giginya, ia tentu marah puterinya dibentak kasar begitu, tapi mukanya tetap tenang memandang ke depan. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.

“Tuan Bahadur, memang benar, malam itu aku turun menghibur Noura. Tapi Noura tidak bisa dihibur. Ia menangis terus dan tidak berbicara sepatah kata pun padaku. Aku jengkel, lalu ya kutinggal dia. Setelah itu aku tidak tahu kemana dia. Kukira dia kembali ke rumah Anda.”

“Hmm...jadi begitu. Anak itu memang keras kepala dan menjengkelkan bukan? Kau saja dibuat jengkel. Aku ayahnya dibuat jengkel setiap hari. Kalau ketemu akan kubunuh anak itu biar tidak membuat jengkel lagi!”

“Sudah cukup bicaramu Bahadur? Kami ada urusan!” Kata Tuan Boutros.

Si Muka Dingin tidak menjawab. Ia hanya pergi begitu saja sambil mengepalkan tinjunya, ia mendesis “Kalau kembali anak itu akan kukuliti biar tahu rasa!”

“Puji pada Tuhan, Si Brengsek itu tidak macam-macam.” Madame Nahed mendesah lega. Tuan Boutros cepat-cepat menyalakan mesin. Lalu perlahan menjalankan mobil meninggalkan halaman apartemen dibuntuti oleh Yousef. Selama dalam perjalanan Tuan Boutros banyak bercerita tentang hal menjengkelkan Si Muka Dingin. Aku meminta beliau tidak usah meneruskan. Aku minta topik pembicaraan yang menarik, yang mengasyikkan, yang menyenangkan seirama dengan malam kebahagiaan Madame Nahed. Maria memuji usulku. Madame Nahed lalu bercerita tentang Maria kecil. Hal-hal kecil yang Maria lakukan. Maria sesekali menjerit manja minta mamanya tidak meneruskan. Ia malu katanya. Tapi Madame Nahed malah seperti tertantang untuk menceritakan semakin banyak. Tuan Boutros sekali menimpal kisah yang diceritakan isterinya. Maria jadi lakon. Aku diam saja. Hanya sesekali bertanya, benarkah? Maria akan langsung menyahut, tidak benar, mama bohong! Madame Nahed dan Tuan Boutros akan menyahutnya dengan tawa terpingkal-pingkal.

“Maria ini waktu kecil sampai umur empat tahun masih menetek. Umur lima tahun masih ngompol apa nggak menyebalkan!” kata Madame Nahed memperolok puterinya.

“Benarkah itu?” sahutku santai sambil memandang sinar purnama yang keperakan di atas riak sungai Nil yang memanjang di samping kiri jalan.

“Ah itu bohong. Tak mungkin itu terjadi!” tukas Maria cepat setengah teriak.

“Itu benar. Kalau tidak percaya nanti kalau bibinya yang bernama Latefa datang tanyakan padanya,” kata Tuan Boutros membela isterinya.

“Itu bukan sesuatu yang tidak baik. Tidak apa-apa. Menetek pada ibu dalam waktu yang lama malah membuat cerdas. Begitu yang kubaca pada sebuah majalah,” sahutku.

Maria berterima kasih padaku karena aku membelanya.

Akhirnya Tuan Boutros memarkir mobilnya di halaman sebuah restaurant ewah. Cleopatra Restaurant. Terletak di pinngir sungai Nile. Bersebelahan dengan Good Shot dan Maadi Yacht Club. Pantas saja mereka berpakaian dan berpenampilan serius. Kami berlima berpandang-pandangan.

“Santai saja. Kita ini turis. Turis ‘kan biasa berpakaian santai?” bisik Hamdi dalam bahasa Indonesia.

“Tapi masak pakai trening yang sudar pudar warnanya begitu?” lirih Saiful sambil meringis memandang Rudi. Aku tersenyum. Baru kali ini kulihat Rudi tidak percaya diri. Muka anak Medan ini seperti kepiting rebus. Di antara kami berlima yang berpakaian paling mengenaskan memang dia. Hamdi lumayan necis, tapi sandal kulit bututnya membuat hati yang melihatnya tidak tahan. Sudah berkali-kali aku mengingatkan agar keduanya membuang jauh-jauh adat klowor yang mereka bawa dari pesantren tradisional. Tapi mereka masih saja suka klowor, padahal baginda Nabi mencontohkan kerapian, kebersihan dan penampilan yang meyakinkan. Memang tidak mudah merubah watak dan gaya hidup. Namun Rudi dan Hamdi jauh lebih baik dari saat pertama kali aku mengenal dan serumah dengannya. Sekarang sudah mulai bisa membagi waktu dan disiplin. Kalau mau diskusi mau menyeterika baju biar sedikit rapi. Tapi aku sangat menyayangkan mereka tadi tidak mau mendengar nasihatku agar berpenampilan sedikit necis. Mereka hanya menyahut, “Alah cuma mau makan saja kok repot-repot!”

Untung Saiful dan Mishbah mengerti nasihatku. Aku sendiri berpakaian tidak bagus sekali namun juga tidak akan memalukan. Kaos katun hijau muda dan rompi santai hijau tua, warna kesayangan. Tak kalah fungkynya dengan Yousef.

Tuan Boutros membawa kami masuk restoran dan memilihkan tempat duduk yang paling menjorok ke sungai Nil seperti dek kapal. Terbuka tanpa atap, bintang-bintang kelihatan. Restauran ini ada dua bagian. Bagian tertutup dan bagian terbuka. Mejanya juga beraneka. Namun warnanya sama. Ada yang untuk dua orang. Empat orang. Dan ada yang bundar untuk enam orang. Kami memilih dua meja bundar yang berdekatan. Tuan Boutros, Madan Nahed, dan Maria telah duduk satu meja terlebih dahulu. Aku mengajak Yousef duduk di meja yang satunya. Teman-teman mengikuti aku. Pas enam orang. Tuan Boutros meminta satu di antara kami duduk satu meja dengan mereka. Kusuruh Rudi. Dia tidak mau. Kupaksa Saiful. Dengan agak ragu-ragu akhirnya dia beranjak juga. Kulihat para pengunjung yang ada. Mereka berpakaian bagus-bagus. Ada sepasang orang bule. Yang lelaki pakai jas yang perempuan pakai gaun malam resmi. Di pojok kanan orang Mesir gemuk botak dengan isterinya. Keduanya rapi. Yousef berbisik kepadaku, “Ini restauran orang besar. Para diplomat dan bisnisman sering kemari. Lihat siapa yang ada di meja dekat lampu hias itu, kau pasti mengenalnya!”

Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Yousef. Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kulihat. Di sana ada Adel Imam dan Yusra sedang menyantap makanan dan berbincang. Dua artis Mesir itu makan malam di restauran ini. Teman-teman melongok ke arah keduanya. Yousef mengingatkan, “Jangan terlalu kelihatan heboh! Restauran ini menjaga ketenangan dan kenyamanan pelanggannya.”

Seorang pelayan menanyakan menu. Madame Nahed berkata kepada kami, “Silakan pilih sendiri menunya. Jangan malu-malu. Hai Hamdi, kau pilih apa?”

Hamdi bingung. Ini baru pertama kalinya dia makan di restauran elite. Menunya juga asing semua.

“Semua masakan khas Timur Tengah ada,” bisik Yousef.

Tiba-tiba Saiful beranjak mendekati aku dan berbisik, “Mas, tolong kau saja yang satu meja dengan Tuan Boutros, aku tidak enak. Aku tidak bisa bicara banyak.”

Wajahnya kulihat pucat. Aku merasa kasihan juga melihatnya. Kalau dia sampai malu, dan pulang masih lapar padahal baru saja dari restauran besar, apa tidak kasihan. Aku jadi teringat dengan cerita teman satu pondok dulu. Namanya Bayu. Pakdenya dari ibu dapat isteri kalangan keraton Kasunanan dan tinggal di kawasan elite Jakarta. Suatu kali ia liburan ke tempat Pakdenya itu. Di sana semua serba teratur. Waktu tidur, waktu belajar, waktu istirahat, baju tidur, baju santai, dan makannya juga teratur waktu dan tata caranya. Saat itu dia kelas tiga SMP. Dia yang biasa di desa serba tidak teratur jadi grogi. Biasa makan tanpa sendok tanpa meja makan, tanpa garpu dan lain sebagainya jadi serba grogi. Dia sebenarnya ingin tambah karena masih lapar, tapi tidak berani. Padahal menunya sangat nikmat. Menu yang jarang sekali ia makan di desanya. Ia takut untuk tambah. Ketika hendak tidur ia merasa masih lapar. Ia tidak bisa tidur dengan perut lapar. Akhirnya ia minta izin pada Pakdenya untuk keluar rumah sebentar. Ia pergi ke warteg dan makan sampai kenyang. Ternyata anak pakdenya yang paling besar melihatnya saat baru pulang dari rumah temannya. Ia pun ditanya sama budenya kenapa jajan padahal telah tersedia banyak makanan, apa makanan di rumah budenya tidak enak? Ia tidak bisa menjelaskan, malah menangis. Aku tidak mau teman-teman mengalami nasib tragis seperti Bayu kecil itu.

Sebelum beranjak ke meja Tuan Boutros, aku berpesan pada teman-teman dengan bahasa Indonesia, “Nanti makan yang banyak santai saja. Jika masih ingin tambah ya tambah saja seperti di rumah sendiri.”

Tuan Boutros heran Saiful pindah tempat duduk. Kubilang ia ingin berbincang dengan Yousef. Tuan Boutros menganggukkan kepala.

Pelayan restauran beralih mendekati aku dan bilang,

“Anda pesan apa? Teman-teman Anda ikut Anda?”

Madame Nahed tersenyum. Maria kelihatannya ingin tahu aku suka menu apa. Untung aku pernah diajak makan malam ke sebuah restauran tak kalah elitenya di Mohandesen oleh Bapak Atdikbud yang jadi ketua takmir masjid Indonesia di Cairo. Jadi, aku tidak merasa asing sekali dengan menu yang tertulis.

“Minumnya Seasonal Fresh Fruits. Makannya Chicken Mugharabieh with Valanciane Rice dan menu penutupnya minta Pineapple Gateau,” kataku mantap. Itu adalah menu yang dipilih Ibu Atdikbud yang waktu itu tidak aku rasakan Sebab waktu itu aku memilih menu utama Onion and Cheese Omelette yang tak jauh beda dengan telur dadar, cuma lebih besar dan tebal. Waktu itu aku sedikit menyesal memilih menu yang keliru. Ih jadi geli mengingatnya. Sekarang aku yakin sekali, aku tidak keliru pilih menu.

“Fathi, kau memilih menu kesukaanku,” komentar Maria, ia lalu bilang pada pelayan, “aku sama dengan dia.” Tuan Boutros pilih Lamb Stew sedangkan Madame Nahed pesan Chicken Kofta with Tomato Sauce dan Yousef suka Kabab Lahmul Ghanam73. Begitu hidangan tersedia kami menyantap dengan tenang sambil menikmati semilir angin sungai Nil dan sesekali melihat riang gelombangnya yang keperakan diterpa sinar rembulan. Ketika kami sedang asyik makan seorang lelaki berdasi menghampiri Tuan Boutros. Tuan Boutros berdiri dan berjabat tangan.

“Fahri, this is Mr. Rudolf from German, and Mr. Rudolf, this is Fahri from Indonesia!” Tuan Boutros memperkenalkan kenalannya dengan pengucapan yang sangat berlogat Arab.

Mr. Rudolf menjabat tanganku erat.

“Pleased to meet you Mr. Rudolf.” Sapaku pada bule di hadapanku dengan tersenyum. Lalu aku berbasa-basi padanya dengan bahasa Jerman, “Sin Sie Tourist?”74

Mr. Rudolf agaknya terkejut mendengar pertanyaanku.

 “Nein. Sprechen Sie Deutsch?”75 Mr. Rudolf balik bertanya dengan nada heran apa aku bisa berbahasa Jerman.

“Ja.” Jawabku sambil tersenyum. Lalu kami berbincang sesaat lamanya dengan bahasa Jerman. Ia menerangkan dirinya adalah staf ahli atase perdagangan Jerman di Kairo. Dia bertanya apa aku seorang diplomat. Kujelaskan statusku di Mesir. Tuan Boutros menawarkan pada Mr. Rudolf untuk duduk bersama kami. Mr. Rudolf mengucapkan terima kasih, ia ditunggu isterinya di meja yang lain, lalu beranjak pergi. Madame Nahed menanyakan di mana aku belajar bahasa Jerman. Dan menyayangkan Tuan Boutros yang tidak bisa berbahasa Jerman padahal banyak koleganya yang berasal dari Jerman. Maria mengusulkan agar ayahnya belajar bahasa Jerman padaku saja. Tuan Boutros hanya tersenyum mendengar celoteh isteri dan puterinya.

 Usai makan kami tidak langsung pulang. Madame Nahed memesan koktail dan mengajak kami semua ke bagian dalam, di sana ada hiburan musik klasik. Aku sebenarnya ingin langsung pulang. Tapi Madame Nahed dan Tuan Boutros memaksa, “Kita lihat sebentar saja.”

Di bagian dalam, di tengah ruangan ada panggung kecil setinggi setengah meter. Bentuknya bundar. Di atas panggung bundar itu ada seorang perempuan muda berambut pirang menggesekkan biola dengan penuh penghayatan.

“Yang ia mainkan sekarang ini karya Bedhoven. Perempuan itu pemain biola terkenal dari Rumania.” Seorang pelayan restoran berkata pada seorang wanita setengah baya yang berada tak begitu jauh dariku.

 Satu lagu selesai. Pengunjung bertepuk tangan. Pemain biola perempuan itu kembali menggesek biolanya. Kali ini bernada riang. Beberapa orang pengunjung berdiri dari kursinya menuju ke dekat panggung. Mereka berdansa. Orang Mesir botak yang tadi kulihat juga berdansa dengan isterinya.

Tuan Boutros meraih tangan Madame Nahed. Madame Nahed tersenyum dan menengok pada Maria, “Maria, ayo cobalah kau berdansa. Sekali ini saja. Coba ajak Fahri atau siapa terserah!”

Aku terkejut mendengarnya. Tuan Boutros menimpal, “Ya Fahri, Maria itu tidak pernah mau berdansa. Coba kau ajak dia! Mungkin kalau kau yang mengajak dia mau.”

Aku diam. Kulirik teman-teman. Mereka senyam-senyum. Tuan Boutros dan Madame Nahed sudah larut dalam irama musik dan berdansa mesra. Maria mendekatiku.

“Fahri, mau coba berdansa denganku? Ini kali pertama aku mencoba berdansa,” lirihnya malu. Aku harus berbuat apa. Apakah aku harus ikut budaya Eropa. Aku teringat kisah awal-awal Syaikh Abdul Halim Mahmud muda saat belajar di Perancis. Beliau juga mendapat godaan yang tidak jauh berbeda dengan aku saat ini. Dan Syaikh Abdul Halim Mahmud muda mampu melewati ujian itu dengan baik. Beliau yang dikenal sebagai ulama sufi modern yang arif billah itu akhirnya dipilih sebagai Grand Syaikh Al Azhar. Jika ada ahli ibadah dan wali di puncak gunung tanpa godaan itu bukan sesuatu yang mengagumkan. Tapi jika ada ahli ibadah bisa berinteraksi dengan baik di tengah kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk budaya hedonisnya itu mengagumkan. Begitu Syaikh Ahmad berkata padaku. Tawaran Maria bagi seorang pemuda adalah tawaran menarik.

Siapa tidak suka bergandeng tangan dan berdansa dengan gadis secantik dia. Di sinilah letak ujiannya.

“Maaf aku tidak bisa,” jawabku sambil tersenyum dan menangkupkan dua tangan di depan dada.
Di pos oleh Arbain Muhayat pada 17 April 2012