Kisah Nyata Sejuta Mualaf P10

49. Sinarto T.S.(Liem Tjong Sien) : Islam sesungguhnya

Pengantar : namanya Liem Tjong Sien. Lahir di Purwodadi, jawa Tengah, 13 Mei 1958. Setelah memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Sinarto Tirto Sumarto. Dengan panjang lebar, Toto, begitu ia dipanggil, mengungkapkan pergulatan batinnya dalam mencari kebenaran. Berikut penuturannya.

Di Indonesia, kalau ada seorang keturunan Cina masuk Islam, atau seorang Cina duduk bersimpuh di masjid menunaikan Solat, akan dianggap aneh, ganjil, dan mengherankan. Mengapa? Barangkali karena golongan Cina dianggap sebagai kelompok masyarakat di luar Islam. Padahal, kalau mau membaca sejarah, kita akan menemui bahwa kaum muslim Tiongkok sebenarnya telah sejak lama menjalin kerjasama dengan muslim pribumi Indonesia.

Banyak peninggalan sejarah yang menunjukan hal itu. Misalnya, ketika berlangsung MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) ke-12 di Banda Aceh tahun 1981, dipamerkan sebuah lonceng besar. Lonceng tersebut merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho, dari Dinasti Ming, saat berkunjung ke Sumatra. Cheng Ho berserta seluruh anak buahnya memeluk agama Islam. Dan, Laksamana ini pula yang berhasil mengantarkan Dinasti Ming ke puncak kejayaan.

Jadi, jauh sebelum orang-orang Barat menjelajah lautan, Cheng Ho dengan anak buahnya sudah lebih dahulu mengarungi samudra Tiongkok Selatan, Samudra Hindia, bahkan jauh menyeberang ke Benua Afrika. Saat berkunjung ke Sumatra, ia bersama pengikutnya sempat menemui raja sambil meninggalkan beberapa anak buahnya, agar turut serta dalam mengembangkan agama Islam. Mereka lantas berbaur dengan penduduk pribumi, antara lain dengan masyarakat Palembang dan lain sebagainya. Bahkan, menurut Prof. Slamet Mulyana, pendiri kerajaan Islam di-Pulau Jawa adalah orang Tionghoa, yakni Senopati Jin Bun yang kita kenal dengan nama Raden Patah.

Meskipun pendapat ini masih kontroversial, tapi sejarah membuktikan bahwa kaum muslimin Tiongkok, sudah sejak lama menyatu dengan bangsa Indonesia. jadi, jika masyarakat kita sekarang masih melihat dengan tatapan aneh terhadap orang Cina yang masuk Islam, hal itu disebabkan oleh gelombang kedatangan orang yang bukan beragama Islam (Kristen). Dengan begitu jumlah orang-orang Tionghoa yang beragama Islam terasa amat sedikit bila dibanding dengan masyarakat muslim lainnya.

Dibesarkan di Lingkungan Islam

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Jawa (Purwadadi) yang mayoritas memeluk agama Islam. Oleh sebab itu, sejak kecil saya bergaul, bermain, dan sekolah bersama-sama mereka. Bahkan, mulai umur tujuh tahun, saya sudah ikut-ikutan belajar ngaji serta sembahyang di langgar (mushala), meskipun waktu itu saya masih menganut agama Budha.

Anehnya, papi dan mami tidak pernah melarang saya belajar ngaji. Saya sendiri hampir tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya saya seorang keturunan Cina. Saya lebih merasa sebagai orang Jawa. Karena itu di rumah pun, saya lebih suka menggunakan bahasa Jawa.

Namun, di saat usia saga mencapai 20 tahun, saya mulai memiliki daya nalar yang matang dalam menyimak dan mencerna segala sesuatu yang menyangkut soal hidup, termasuk keyakinan dalam beragama. Papi dan mami selalu memperingatkan dan sesekali mengajari saya tentang kepercayaan dalam Budha.

Tapi, jiwa saya sudah tertempa dengan ajaran-ajaran Islam selama 13 tahun. Dan, saya lebih meyakini bahwa inilah agama yang benar. Inilah agama yang indah dan sejuk. Maka saya memutuskan, Islamlah agama saya yang terakhir dan tidak akan berubah untuk selama-lamanya. Saya masuk Islam pada tahun 1978. 

Mendengar keputusan ini papi dan mami malah menganjurkan saya untuk mempelajari, serta meningkatkan pengetahuan Islam sedalam-dalamnya. "Jangan jadi Islam munafik dan etengahsetangah," begitu pesan orang tua saya. Seandainya tidak ada anjuran dari mereka pun, saya tetap bertekad bulat untuk terus mendalami pengetahuan Islam, baik lewat buku-buku maupun dari mendengarkan ceramah di masjid-masjid seperti Masjid Sunda Kelapa dan sebagainya.

Ucapan Selamat

Setelah resmi sebagai penganut agama Nabi Muhammad saw., beberapa waktu lalu saya berkirim surat memberi tahu tentang keislaman saya kepada tante di Belanda. Dua minggu kemudian datang balasan sebagai ucapan selamat. Malah om dan tante mengundang saya untuk berkunjung ke Belanda.

Setelah tamat SMA, baru kemudian saya berangkat ke Belanda. Kepada om dan tante saya katakan kalau hendak memberi hadiah buat saya, sebaiknya berupa ongkos naik haji (ONH). Sebab, saya ingin sekali mengusap dinding Ka'bah dengan kedua telapak tangan saya.

Alhamdulillah, om dan tante dengan senang hati menyanggupinya. Alangkah bahagia ya hati saya. Insya Allah, saya akan berangkat ke Tanah Suci. Sekarang saya ingin lebih dalam lagi mengkaji Islam, lewat buku buku dan pengajian di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Sumber: "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com/ Note: Peran besar hidayah dari Allah SWT utk Pak Toto, bagaimana mempersiapkan atau cara menerima hidayah dari Allah agar terbuka pintu hati kita ? simak ulasan dan klik link dibawah ini :

http://www.mualaf.com/modules.php?name=News&file=article&sid=302

 

50. Lim Pei Chuan - Menelusuri Sungai-sungai Hidayah

Namaku Lim Pei Chuan, seorang keturunan Tiong hoa bersuku Han dan masih satu kampung dengan KhongCu sang pembawa agama Khong Hu Cu, Shan Tung. Dua puluh dua tahun lalu, nama itu aku sandang dari seorang ahli nujum keluarga. "Aliran Sungai besar dari Utara", nama yang tidak terlalu buruk aku kira.

Kehidupanku di negeri ini bermula dari terdamparnya kakekku, Lim Man Ie, di pesisir pantai Sumatera Utara tahun 1945. Saat itu, ia sedang melarikan diri dari negerinya, Tiongkok, karena peperangan besar yang terjadi di sana.

Di Sumatera, kakek mengenal seorang gadis desa yang manis lagi baik bernama Tan Gek Nai yang kemudian ia persunting jadi istrinya. Dari hasil pernikahan itu, lahirlah papa dan pamanku.

Sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena nenekku meninggal setelah melahirkan pamanku, saat itu papa baru berumur tujuh tahun. Pada saat papa berumur delapan tahun, kakek pun menyusul isterinya karena sakit diabetes dan cidera pinggang yang dideritanya.

Dalam keadaan yatim piatu, papa harus berusaha menghidupi dirinya sendiri. Saat itu, ia numpang dengan pamannya di Simpang Tiga. Di sana ia dipekerjakan sebagai pembantu hingga menikah dengan seorang penjaga toko kelontongan.

Papa dan mamaku dibesarkan dengan pendidikan yang kurang. Papa seorang lulusan SMA dan mama hanya bersekolah sampai kelas tiga SD sekolah Cina, karena sekolah itu akan dibongkar paksa karena peristiwa GestOk (PKI-red).

Aku dibesarkan dalam budaya TiongHoa yang cukup kental. Dari kecil, aku sudah diajak oleh papa untuk belajar berdagang dan diajarkan berbagai ilmu tentang dagang serta semua keahlian pendukungnya.

Papa seorang perokok dan peminum. Meski demikian, ia tidak pernah ngamuk-ngamuk seperti kebanyakan peminum. Jadi, sejak umur tujuh tahun aku sudah cukup sering minum bir bersama papa, atau pernah satu sempat aku diajak nonton tarian setengah bugil bersama-sama orang tua. Namun, semua itu tidak pernah aku lakukan tanpa orang tua. Hal yang paling dilarang saat itu oleh papa adalah berjudi, merokok dan main perempuan.

Saat kelas dua SLTP, ada kegundahan yang tak dapat kujelaskan tentang sesuatu yang mengganjal dalam dadaku. Prinsipnya, aku hanya ingin benar-benar meyakini bahwa my religion is the true way of life dan bukan seorang penganut agama keturunan.

Aku memulai perjalanan ruhaniku dari agama Buddha Theravada (Buddha Thailand), Mahayana (Buddha Tiongkok), Tantrayana (Buddha Tibet), Ekayana (Buddha campuran), Buddhayana, Tridharma (Perpaduan agama Buddha, Khonghucu, dan Taoism).

Karena rasa yang mengganjal itu belum terlunaskan, maka aku mempelajari ilmu Taoism Tiongkok dan Taiwan, lalu Hindu Bali dan Hindu India. Masa pencaharian diwarnai suatu tragedi di keluargaku, mamaku menderita Hipertensi dan harus masuk rumah sakit.

Pada saat mama diperiksa, aku mulai putus asa dengan keadaannya. Saat itu aku hanya teringat, bahwa aku harus memohon kepada yang bernama Tuhan, agar mama disembuhkan. Selang beberapa saat, sakit mama mereda. Yang aku panggil saat keadaan terjepit itu adalah Tuhan, bukan nama dewa-dewi yang kukenal ataupun yesus. Fitrah asalku mengatakan bahwa aku butuh Tuhan, tempat aku memohon dan berlindung dalam setiap keadaan. 

Sakit yang dialami mama sudah sekitar setengah tahun. Hampir sepuluh juta, uang yang terkuras demi pengobatan mama. Keadaan keluarga semakin morat-marit, tapi mama tak kunjung sembuh. Sejak mama di rumah sakit, akulah yang tinggal di rumah melayani papa dan adikku, dari mulai memasak, membereskan rumah, dan semua yang biasa dilakukan mama.

Saat itu, datanglah tetanggaku yang beragama Nasrani menawarkan untuk refresh ke Gadog Puncak. Tawaran itu aku sambut dengan baik. Kami berangkat jam 4 sore dan sampai di sana sekitar jam 10 malam. Di sana, kami tidur dahulu sampai jam 00.00. Kemudian dibangunkan untuk mendengarkan kotbah malam seorang pendeta dari Sulawesi. Saat itu, kami yang tidak semuanya Kristen pun ikut kebaktian malam. Di villa itu ada yang beragama Khatolik, Buddha, Khonghucu, dan kalau tidak salah adapula yang beragama Islam.

Si pendeta memulai khotbahnya malam itu selama dua sesi. Sesi pertama adalah kesaksian, ia mengakui bahwa dia tadinya beragama Islam namun ia tidak menemukan kedamaian di sana. Anak dan Istrinya pun bergantian bicara tentang keadaan mereka yang buruk ketika beragama Islam. Sesi kedua, ia berusaha agar kami yang di sana berucap "haleluya" bersama-sama.

Setelah sekian lama mengikuti kegiatan mereka, termasuk mencoba untuk mengkristenkan kedua orang tua saya dengan dalil-dalil gerejawi, timbul sebuah pertanyaan yang paling mendasar dalam diri saya, mengapa aku semakin ragu terhadap Yesus. Keraguan itu aku tanyakan kepada gembala gereja, tapi yang kudapat hanyalah doktrin-doktrin gerejawi.

Aku semakin tidak percaya lagi dengan doktrin-doktrin gerejawi tentang Yesus. Aku berusaha menghilangkan gambaran Yesus dari pandanganku dengan mengatakan bahwa aku tidak mencintainya lagi. Di kemudian hari, aku baru sadar bahwa hampir saja aku menjadi korban Kristenisasi sepertinya dengan metode hipnotis diri dan jin.

Setelah itu, aku kembali pada agama semula, Khonghucu. Lagi-lagi Allah memberikan hidayah kepadaku melalui pengalaman gaib.

Ketika itu aku sedang sembahyang di sebuah kelenteng, seperti biasanya, aku mulai mengambil Hio atau dupa panjang, menyalakannya dan mulai menancapkannya di setiap dewa-dewi yang telah ditentukan sambil berdoa.

Ketika sampai di dewa terakhir, ada sebuah suara yang berbicara di telinga kananku. Dia bertanya tentang apa yang sedang aku sembah. Aku menjawab, bahwa yang aku sembah itu adalah Buddha. Lalu ia bertanya lagi tentang yang mana Buddha itu. Aku menunjuk patung Buddha untuk menjawab pertanyaan itu.

Ia bertanya lagi tentang yang aku tunjuk itu. Dengan sedikit merasa salah aku mengatakan bahwa itu patung. Ia bertanya lagi tentang siapa yang menciptakan patung? Aku menjawab, manusia!

Ia bertanya lagi siapa yang menciptakan manusia? Aku mengatakan Tuhan! Sayup tapi pasti, suara itu mengatakan. "Itulah yang kamu cari. Carilah Tuhanmu, Tuhan Yang Menciptakan kamu dan aku, Tuhan Pencipta semesta alam ini, Tuhan Yang Membuat semua yang tiada menjadi ada. Ia Yang Pertama dan Terakhir.

Ketika aku bekerja sebagai pencuci diesel, dari stasiun Poris, naik sekeluarga Muslim yang terlihat taat agamanya. Betapa harmonis dan hangatnya keluarga mereka. Semuanya itu membuatku penasaran, hingga aku memberanikan bertanya pada bapaknya tentang resep membina keluarga seperti itu. Jawabannya sangat menakjubkan, "Allahlah yang telah membentuk keluarga seperti ini". Allah terus membimbingku untuk kembali kepada-Nya lewat berbagai peristiwa yang memberikan hikmah mendalam pada diriku. Semuanya membuatku semakin merasa perlu mencari obat kegelisahan hatiku. Hidayah terakhir yang terjadi padaku adalah sebuah perjalanan ruhani. Aku mengalami empat hal yang membuatku tidak lagi dapat berpaling dari kebenaran Islam dan kerinduanku untuk segera menghampiri agama Allah itu.

Perjalanan pertama adalah aku mati suri selama enam jam. Di perjalankan, rohku sampai di suatu tempat yang sangat putih bersih yang disana aku memakai sorban putih, gamis putih dan memegang tasbih putih serta mulai berjalan menuju sajadah yang berwarna putih. Sayup-sayup terdengar bacaan Yasin dari seorang laki-laki, ketika aku sudah mulai duduk di atas sajadah putih itu. Akupun mulai mengucapkan satu kata yang belum pernah aku ucapkan sebelumnya, "Subhanallah", aku bertasbih terus sampai Azan subuh sayup-sayup berkumandang.

Perjalanan kedua, aku terbang di kegelapan malam. Aku melihat sebuah cahaya keemasan yang setelah aku dekati ternyata sebuah musholla kecil yang terbuat dari kayu cendana. Setelah aku masuk musholla itu, aku mulai membaca Quran yang sebelumnya belum pernah aku mengerti.

Perjalanan ketiga, ketika mau tidur ada sebuah bayangan memakai gamis dan sorban putih masuk lewat jendelaku. Selama kurang lebih lima menit, ia mengatakan Laa Ilaaha illa Allah. Pada pertemuan selanjutnya, ia memakai sorban dan jubah hitam serta masih melafalkan kalimah Thayyibah.

Perjalanan keempat, aku diperjalankan melihat padang Mashyar, di mana aku melihat samudera manusia berkumpul. Akhwat di sebelah kananku dan yang ikhwan di sebelah kiriku. Mereka semua berpakaian jilbab putih-putih dan kebaya bagi yang akhwat dan sorban atau peci putih bagi yang ikhwan.

Aku berjalan menembus milyaran manusia itu dan sampai di sebuah masjid. Aku masuk ke dalamnya, dan di sana terlihat pula jutaan manusia. Ketika aku hendak berkumpul dengan orang-orang itu ada seorang nenek-nenek yang memanggil ke depan dan meminta aku membaca Yasin, tetapi aku tolak karena aku tidak dapat membacanya.

Alhasil, aku dikurung di suatu tempat di dalam masjid itu. Tidak begitu lama, aku dikeluarkan dari tempat itu dan diminta untuk membaca Yasin sekali lagi. Aku menolaknya kembali. Setelah itu, nenek tersebut tertawa dan mengatakan "Sejak kamu dilahirkan di atas dunia ini, kamu telah ditidurkan di atas sajadah"

Seketika itu aku bangun dan langsung pergi ke musholla SMU-ku dan berwudhu sekedarnya dan memohon kepada Allah, jikalau memang ini yang Allah inginkan maka aku memohonkan agar Dia mudahkan jalanku untuk memeluk Islam. Alhasil, beberapa hari setelah itu, tepatnya 28 Ramadhan 1420 H, di Masjid Lautze, pasar baru Jakarta, aku ber-Islam.

Sumber: www.swaramuslim.net

 

51. Mahmud Gunnar Erikson (Sweden)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam bagi Rasul-Nya yang mulia. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah satu-satunya, tanpa sekutu, dan Saya bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan Utusan-Nya.

Hubungan saya dengan Islam untuk pertama kali dimulai sejak lima tahun yang lalu. Seorang sahabat baik saya telah membacakan Kitab Suci Al-Qur'an karena beberapa alasan. Saya tidak akan melupakan Kitab Suci ini yang oleh sahabat saya telah diberitahukan sebahagian isinya. Kemudian saya berusaha untuk mendapatkan terjemahannya dalam bahasa Swedia. Saya telah berhasil mendapatkannya lebih dahulu dari sahabat .saya itu, dan mulailah saya membacanya. Dan karena saya mendapatkannya sebagai pinjaman dari sebuah perpustakaan umum, maka saya tidak dapat memegangnya lebih dari dua minggu. Karena itulah maka saya terpaksa meminjamnya kembali berulang-ulang, dan setiap kali saya membacanya, bentambahlah keyakinan saya bahwa isi Al-Qur'an itu benar, sampai pada suatu hari bulan Nopember tahun 1950 saya memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Satu atau dua tahun telah berlalu dalam keadaan saya sebagai penganut Islam, tapi tidak lebih dari itu. Sampai pada suatu hari saya datang ke perpustakaan umum pusat di Stockholm. Saya teringat kembali bahwa saya seorang Muslim. Lalu saya berusaha mencari perpustakaan yang menyimpan buku-buku tentang agama Muhammad s.a.w. Saya bergembira ketika saya mendapatkan satu di antaranya, lalu saya meminjamnya sebentar dan saya membacanya dengan penuh perhatian bersama terjemahan Al-Qur'an dari Muhammad Ali. Sekarang saya menjadi lebih yakin tentang kebenaran Islam, dan sejak itulah saya mulai melaksanakannya dalam praktek.

Kemudian dalam satu kesempatan, saya menggabungkan diri dengan Jema'ah Islam Swedia, dan saya melakukan Sembahyang 'Id untuk pertama kalinya di Stockholm pada tahun 1952. Inilah posisi saya ketika saya pergi ke Inggris, tepat beberapa minggu sebelum hari 'Idul-Fithry tahun 1372 H. Pada liari pertama saya sampai di sana, saya pergi ke Mesjid Woking, di mana saya dianjurkan supaya mengumumkan ke-Islaman saya pada hari raya 'Id. Dan hal itu telah saya laksanakan.

Sesungguhnya apa yang mengagumkan saya dalam Islam dan tidak habis-habisnya mengagumkan saya, ialah ajarannya yang rasional. Islam tidak akan minta kepada anda supaya mempercayai sesuatu sebelum anda mengerti dan mengetahui sebab-sebabnya. Al-Qur'an telah memberikan contoh-contoh kepada kita mengenai adanya Allah secara tidak berlebih dan memang tidak bisa dilebih-lebihkan.

Segi lainnya dalam Islam yang mengagumkan saya, ialah sifatya yang menyeluruh meliputi segala pelosok dunia dan segala bangsa. Al-Qur'an tidak menyebut Allah itu sebagai Tuhannya bangsa Arab atau bangsa lain tertentu. Tidak! Bahkan tidak juga Islam menyebutkan Allah sebagai Tuhan dunia ini, akan tetapi Tuhannya seluruh alam (Rabbul-'alamin). Sedangkan Kitab Suci yang lain menyebutnya sebagai "Tuhan Bani Israil" dan sebagainya. Lebih dari itu, malah Islam memerintahkan supaya kita beriman kepada semua Rasul, baik yang tertulis dalam Al-Qur'an maupun yang tidak.

Akhirnya saya telah menemukan dalam kitab-kitab wahyu yang terdahulu beberapa keterangan yang banyak sekali tanpa keraguan tentang akan diutusnya Muhammad s.a.w. Dalam hal ini, Al-Qur'an menyatakan:

Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku buat kamu, dan Aku rela Islam sebagai agama kamu. -- Al-Maaidah 3. Dan: Sesungguhnya agama yang diridlai Allah ialah Islam --. Ali Imran 19.

Sumber : Mengapa Kami Memilih Islam, Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung

 

52. Marry Fallot, Islam Booming di Eropah, Mualaf Perancis Menepis Paranoid

Seorang gadis berkulit putih tampak sedang berbicara melalui telepon genggamnya. Wanita berwajah khas Prancis itu tak ada bedanya dengan wanita muda lain yang sedang mencicipi kopi di sebuah kafe di pinggir jalan Paris.

Mary Fallot adalah gadis berkebangsaan asli Prancis. Ia lahir dan dibesarkan di negara yang dikenal sebagai kiblat mode dunia itu. Yang berbeda, Fallot ternyata beragama Islam. Terlihat jilbab mungil menyelimuti kepala wanita yang telah memeluk Islam tiga tahun lalu itu.

Namun, fenomena berbondong-bondongnya wanita kulit putih berkebangsaan Prancis yang masuk Islam, justru menggusarkan sejumlah kalangan. ''Fenomena ini sedang booming dan itu mengkhawatirkan kami,'' kata Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Prancis, Pascal Mailhos.

Pandangan Mailhos ini ternyata banyak penganutnya. Badan yang khusus menangani kegiatan antiteroris di negara-negara Eropa, melihat fenomena maraknya penduduk Eropa masuk Islam, membuat mereka bekerja ekstra mengawasi wanita seperti Fallot. Sebab, di mata polisi Eropa, sosok seperti Fallot merupakan figur yang berpotensi membahayakan keamanan.

Kalau sebelumnya polisi hanya perlu mengawasi kemungkinan ancaman dari orang muda berparas Timur Tengah yang memang selama ini kerap diidentikkan sebagai pelaku bom manusia, kini mereka juga harus mengawasi wanita berparas Eropa. ''Sangat mungkin bagi teroris memanfaatkan lengahnya pengawasan terhadap wanita Eropa itu,'' kata Magnus Ranstrop, peneliti teroris dari universiti Pertahanan Nasional Swedia.

Memang, ketakutan berlebihan yang tak beralasan sedang menjangkiti sebagian besar warga Eropa. Mereka khawatir cara kematian Muriel Degauque, warga Belgia yang masuk Islam, karena meledakkan dirinya dalam serangan ke tentara Amerika Serikat (AS) di Irak, akhir tahun kemarin, akan ditiru.

Bom manusia oleh Degauque ini, mereka generalisasi bahwa mualaf --sebutan bagi yang baru masuk Islam-- berpotensi melakukan hal serupa. Sementara, sebagian besar dari mualaf di Prancis adalah wanita.

Bagaimana Fallot menanggapi paranoid pihak keamanan Prancis itu? Wanita muda ini menolak semua anggapan tak berdasar tersebut. Ia masuk Islam bukan karena keterpaksaan. Tak adanya penjelasan rinci atas beberapa pertanyaan mendasar dari agama yang dianut sebelumnya, membuat ia tertarik masuk Islam. ''Bagi saya, Islam menyampaikan cinta, toleransi, dan kedamaian,'' katanya tulus.

Meski Fallot mengakui ada di antara mualaf yang berpola pikir radikal. Tapi, dari mereka itu yang kemudian melakukan tindakan kekerasan, bisa dihitung dengan jari. Ia menyebut seperti Richard Reid dan John Walker Lindh, warga AS yang tertangkap di Afghanistan.

Terlepas dari itu, pemeluk Islam di Eropa tumbuh bak jamur di musim penghujan setelah peristiwa ledakan World Trade Center (WTC). Meski, tidak ada peneliti yang menghitung berapa jumlah pasti penduduk Eropa yang beralih ke Islam setiap tahunnya.

Data PBB menunjukkan, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat 100 persen pada 1999 dibanding tahun sebelumnya, menjadi 13 juta atau dua persen dari seluruh penduduk Eropa. Sebanyak 3,2 juta di Jerman, dua juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan sisanya tersebar di negara Eropa lainnya, terutama kawasan Balkan.

Dan tak dapat disangkal, lebih banyak wanita yang masuk Islam ketimbang pria. Pandangan selama ini, wanita Eropa masuk Islam karena menikah dengan lelaki Muslim. ''Kenyataan wanita lebih banyak masuk Islam tak terbantahkan lagi,'' kata Haifa Jawad, dosen di universiti Birmingham, Inggris. Fallot sendiri hanya tertawa ketika teman-temannya mengatakan, ia masuk Islam karena kekasihnya orang Islam. ''Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas kehendak sendiri,'' terang Fallot.

Ia merasakan sangat dekat dengan Tuhan setelah masuk Islam. Islam itu sederhana, lebih teliti, dan mudah karena semua ajarannya telah dijelaskan secara eksplisit. Di Islam, ia menemukan suatu pola pikir hidup, aturan yang dapat diikutinya.

Alasan itu menjadi dasar bagi banyak wanita yang pindah ke Islam. ''Banyak dari wanita itu mengeluhkan atas rusaknya moral masyarakat Barat,'' kata Jawad. ''Mereka merasa memiliki atas apa yang ditawarkan Islam.'' Mereka juga tertarik atas pola hubungan antara pria dan wanita. ''Ada lebih banyak ruang untuk keluarga dan peran ibu dalam Islam. Dan ternyata wanita tidak menjadi objek seks belaka,'' kata Karin van Nieuwkerk yang mempelajari perilaku masuk Islamnya wanita Belanda.

Sarah Joseph, pendiri majalah gaya hidup Emel, mengatakan hal senada. Ia juga menolak anggapan wanita yang masuk Islam karena tidak ingin terpengaruh gerakan feminis Barat, tak sepenuhnya benar. Prof Stefano Allievi, pengajar di universiti Padua, Italia, mengatakan, keputusan mereka masuk Islam mempunyai arti politik. ''Islam menawarkan spiritualitas politik, ide tentang misi suci,'' katanya.

Setelah memutuskan masuk Islam, mereka melaksanakan ajarannya secara bertahap. Semisal Fallot, ia merasa belum siap langsung mengenakan jilbab. Ia mengenakan pakaian yang lebih panjang dan longgar di awal keislamannya. Para mualaf ini, lebih taat dari yang terlahir dalam keadaan Islam.

Di awal keislaman seorang mualaf, menjadi momentum yang sangat sensitif. ''Mereka sangat ingin dan siap melaksanakan semua yang diajarkan,'' kata Batool al-Toma, pelaksana program 'Muslim Baru' di Islamic Foundation Leicester, Inggris.

''Mereka ingin membuktikan sesuatu atas keyakinannya itu dengan sebuah pengorbanan,'' tambah Ranstorp yang bisa jadi pengorbanan itu dalam bentuk aktivitas di luar kewajaran. Ia mencontohkan Degauque yang sebelumnya adalah pengguna narkoba, telah menjadi korban dari orang yang memanfaatkan semangat pembuktian dirinya itu. ( has/berbagai sumber/Mualaf.Com)

Mei Lan (Intan Nur Sari) : Bermimpi Membaca Al-Qur'an

Sejak kecil saya bagaikan hidup di dua muara. Papa dan sanak keluarganya beragama Budha Konghucu. Sedangkan, dari pihak keluarga mama beragama Kristen Protestan. Mama sendiri, miskipun rajin ke gereja, tetapi di KTP-nya beragama Budha Konghucu. Barangkali atau mungkin sebagai istri orang Tionghoa, mama harus ikut agama suami.

Saya sendiri, sejak kelas V SD mulai aktif ikut kebaktian di gereja yang terletak di sekitar Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Hal itu saya lakukan karena dorongan mendiang oma (nenek dari pihak mama). Beliau amat khusyu menjalani kehidupannya sebagai seorang Kristen yang saleh. Amat berbeda dengan kehidupan keluarga besar papa. Mereka, meskipun beragama Budha, namun tampak kurang begitu mempedulikan agamanya. Dalam lingkungan kelurga yang seperti itulah, saya dan adik saya, Grace, dibesarkan. Yang mengherankan, adik saya itu sejak kecil tidak pemah mau diajak ke gereja. Bahkan, ia memiliki kitab suci Al-Qur'an terjemahan terbitan Departemen Agama RI.  Sebab itulah, is paling dibenci oleh pihak keluarga mama.

Setelah remaja, saya aktif di Gembala Remaja (organisasi remaja gereja) daerah Gunung Sahari. Sebetulnya, itu hanya sekadar untuk mengisi waktu saja, di samping karena ajakan keluarga mama. Kurang lebih 3 tahun saya aktif di organisasi itu. Setiap minggu saya selalu mengikuti Pembacaan Alkitab. Sedangkan, pada selasa sore saya mengikuti Perkabaran Injil, semacam diskusi atau debat tentang berbagai masalah keagamaan.

Karena aktivitas saya itu, pada pertengahan tahun 1989 saya termasuk di antara 10 orang jemaat yang ikut dibaptis. Sebetulnya pada waktu itu saya tidak siap untuk dibaptis, karena sampai sejauh itu hati kecil saya masih belum meyakini kebenaran Kristen. Dalam acara debat yang sering diadakan untuk Gembala Remaja, saya sering menunjukkan beberapa kejanggalan yang saya jumpai dalam Alkitab (Injil). Terutama yang menyangkut kisah dan sejarah.

Meninggalkan Gereja

Seiring dengan hasrat saya untuk mencari kabenaran, maka ketika duduk di kelas II SMP, saya mulai rutin mengikuti pelajaran agama (Islam) di kelas, meskipun guru agama pada waktu itu membebaskan siswa non-muslim untuk tidak mengikutinya. Kebiasaan itu terus saya lanjutkan sampai saya bersekolah di sebuah SMEA swasta di Jakarta Utara. Saya mulai membandingkan beberapa hal antara Islam dan Kristen. Waktu itu, dengan nalar yang masih sederhana saya menyimpulkanbahwa Kristen dan Islam sebagai sesuatu yang "serupa tapi tak sama".

Mungkin kesimpulan itu tidak tepat. Tetapi begitulah, saya melihat ada beberapa kesamaan, misalnya tentang sejarah nabi-nabi. Dalam Injil terdapat kisah para rasul. Begitupun dalam Al-Qur'an. Kebetulan pada saat yang bersamaan materi pelajaran yang saya terima di gereja dan di sekolah hampir lama, yakni pembahasan tentang sejarah nabi. Bedanya, di gereja menurut versi Injil, sedangkan di sekolah versi AlQur'an. Sehingga, jika guru agama di sekolah melempar pertanyaan, saya sering menjawabnya. Tentu saja, itu membuat kawan-kawan saya heran.

Tetapi, ada sesuatu yang sangat mendasar yang membedakan antara Kristen dan Islam, yaitu konsep ketuhanannya. Kristen menjabarkan pengertiaan keesaan Tuhan pada konsep Trinitas. Terus terang, ini sesuatu yang amat rumit untuk dijelaskan.

Bagaimana mungkin menjelaskan wujud Tuhan Yang Esa dalam tiga oknum yang terpisah (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Sedangkan, Islam memiliki konsep ketuhanan yang amat sederhana, tetapi jelas dan tegas. Tauhid sebagai konsep ketuhanan kaum muslimin menegaskan bahwa Allah adalah Esa. la tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Dan, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Penjelasan konsep tauhid oleh guru agama di SMEA tempat saya sekolah itu, menurut saya lebih masuk akal ketimbang penjelasan konsep trinitas yang disampaikan pendeta di gereja. Sejak itu saya menjadi malas pergi ke gereja. Itu terjadi pertengahan 1990, tidak lama setelah oma yang saya cintai meninggal dunia. Terus terang, saya semakin rajin ke gereja karena dorongan beliau. Dan setelah beliau wafat, rasanya tidak ada lagi ikatan batin yang menghubungkan saya dengan gereja.

Setelah itu, saya menarik diri dari semua kegiatan gereja. Mama pun, karena faktor kesehatannya mulai jarang mengikuti kebaktian. Dalam kondisi seperti itu, saya lebih banyak berdiam diri di rumah. Pada suatu hari, teman main saya memperkenalkan saya dengan seorang pemuda. Nama-nya Harris. Dari wajahnya saya menduga ia peranakan Tionghoa.

Mimpi Membaca Al-Qur'an

Kurang lebih seminggu setelah perkenalan dengan Harris, saya bermimpi didatangi seorang tua yang berjubah putih. Dalam mimpi itu saya mengenakan jilbab (kerudung panjang yang menutupi leher dan dada), sedangkan Harris, mengenakan kopiah hitam. Kami duduk bersila berdampingan. Tanpa berbicara sepatah pun, orang tua berjubah itu pun memberikan saga sebuah buku yang ternyata adalah Kitab Suci AlQur'an. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh saya untuk membacanya. Aneh, ternyata saya begitu lancar membacanya. Saya terus membaca, sampai akhirnya saya terjaga dari tidur. Hari masih gelap, karena belum masuk waktu subuh.

Saya tersentak kaget. Mimpi itu begitu aneh. Bagaimana mungkin saya dapat begitu lancar membaca Al-Qur'an? Semula saya tidak ingin menceritakan mimpi itu kepada siapa pun. Tetapi setelah beberapa hari, hati ini amat resah. Saya tidak tahan untuk berdiam diri. Akhirnya, saya ceritakanlah mimpi saya itu kepada seorang tetangga sebelah runah.

Tanpa saya duga ia mengatakan bahwa dalam waktu yang tidak begitu lama saya akan masuk Islam. "Apa iya?" kata saya dalam hati. Sedangkan, saya belum punya niat untuk masuk Islam. Selama beberapa hari saya dilanda kebimbangan. Beberapa hari kemudian Harris datang bertandang. Saya iebih banyak berdiam diri. Akhirnya, ia menanyakan apakah saya masih sering ke gereja. Saya menjawab saja sekenanya kalau saya lagi malas ke gereja. Lalu, tanpa saya duga ia menyarankan agar saya masuk Islam saja.

Tentu saja saya amat heran. "Lho, kamu kan Kristen, kok menyarankan saya masuk Islam?" tanya saya tidak percaya. Justru ia yang kaget. "Siapa bilang saya Kristen, saya Islam kok?" katanya sambil mengeluarkan KTP-nya. Baru pada malam itu saya mengetahui kalau Harris yang saya sangka peranakan Tionghoa itu, ternyata orang Jawa, dan beragama Islam. Habis wajahnya mirip orang Cina, sih.

Saya merasa antara mimpi dan saran Harris merupakan suatu mata rantai petunjuk dari Yang Maha kuasa. Akhirnya, saya ceritakanlah mimpi aneh itu kepada Harris. Ternyata, komentar Harris sama dengan komentar tetangga tadi. Seminggu setelah itu, usai pelajaran agama di sekolah, langsung saya utarakan niat saya kepada bapak guru agama bahwa saya ingin masuk Islam. Harris pun saya beritahu. la pun banyak membantu mengurus proses keislaman saya di KUA (Kantor Urusan Agama).

Mama sebagai orang yang paling dekat dengan saya, tentu saja saya beritahu. Mama tidak keberatan. la bahkan menasihati saya setelah menjadi orang Islam agar benar-benar melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Sebab, menurut mama, orang memilih suatu agama bukan untuk main-main. Tetapi kepada papa, saya memang sengaja tidak memberitahu.

Singkat cerita, pada hari Kamis pertengahan Agustus 1992, bertempat di kantor KUA Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, saya berdua dengan adik saya, Grace, mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan disaksikan bapak guru agama SMEA Yanindo, Pak Syaiful (Pengurus Masjid An-Nur Ancol), beberapa orang kawan sekolah, dan tentunya Harris yang sekarang menjadi "teman dekat" saya.

Kini, setelah menjadi muslimah saya mempunyai nama hijrah Intan Nur Sari. Sekarang ini saya sedang mengikuti bimbingan membaca A1-Qur'an di TPA Masjid An-Nur Ancol, Jakarta Utara. Mohon doa dari ikhwan/akhwat seiman di tanah air agar saya dan adik saya diberikan kekuatan iman dan Islam dalam mempertahankan keyakinan kami ini.

Sumber: "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com/

 

53. Miranda Risang Ayu

Nama saya Miranda Risang Ayu. Saya lahir pada 10 Agustus 1968. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orang tua saya adalah penganut Kristen Protestan yang fanatik. Karena mereka penganut agama yang fanatik, saya pun sejak kecil sudah dididik dengan ajaran Kristen Protestan.

Didikan ajaran agama yang saya peroleh sejak kecil itu, sedikit-banyaknya membuat saya kritis terhadap berbagai hal. Untuk sesuatu yang tidak saya ketahui, saya tak segan bertanya pada ibu. Namun, karena kedua orang tua saya termasuk orang sibuk, saya lebih dekat dengan nenek. Nenek mendidik saya dengan keras, tetapi sangat memanjakan. Termasuk dalam soal agama.

Mulai Ragu

Menjelang usia remaja, ketika saya duduk di kelas dua SMA Taruna Bakti, saya mulai ragu dengan ajaran agama saya sendiri. Saya meragukan dan bingung pada konsep trinitas yang terdiri dan tiga oknum itu. Di samping itu, saya juga sering bertanya dalam hati, mengapa bila kita berdoa harus melalui Yesus Kristus, tidak langsung ke Tuhan saja ?

Untuk memperoleh jawaban itu, saya sering berdialog dengan pendeta. Tapi jawaban para pendeta itu tidak membuat saya paham dan mengerti. Terus terang, saya tidak puas.

Karena jawaban mereka,menurut saya, terlalu mengada-ada, tidak sesuai logika. Di tengah kegelisahan batin itu, saya terus mencari titik terang dengan mempelajari ajaran-ajaran Lao-Tze tentang Taoisme. Tujuan saya mempelajari ajaran ini, dengan harapan bisa menemukan Tuhan. Namun, kembali saya mengalami kegagalan. Di sana saya malah menemukan banyak kelemahan dalam ajaran Cina kuno itu.

Dalam masa pencarian itu, suatu siang menjelang bulan Ramadhan 1985, saya bertandang ke perpustakaan sekolah Saat menikmati bacaan, tiba-tiba saya tertarik dengan buku yang sedang dipegang oleh seorang ternan. Setelah berbasabasi dengan teman itu, saya baru mengetahui bahwa buku yang dipegangnya itu adalah buku agama Islam yang berjudul, Wawasan Islam, karya Endang Saefuddin Anshari.

Karena tertarik dengan buku wajib pelajaran agama Islam itu, saya berusaha meminjamnya dan teman saya itu. “Tapi, ini buku agama Islam,” sahut teman saya itu.

Kata “tapi” itu menyiratkan bahwa ia sebenarnya kaget juga. Lalu, saya jawab, “lya, saya tahu. Tapi saya ingin baca.” Akhirnya teman itu memberi pinjam buku itu pada saya.

Namun sudah beberapa waktu buku itu banya tergeletak di meja kamar tanpa sempat saya sentuh, sampai teguran nenek yang bernada cuniga menyadarkan saya bahwa buku itu cukup riskan untuk kedamaian di rumah.

“Apa-apaan kamu, baca buku seperti itu?” sergah nenek tajam. “Hati-bati, nanti kamu masuk Islam...,” lanjutnya. Ketajaman pertanyaan nenek itu dapat saya mengerti. Tetapi ketika itu saya hanya tersenyum saja dan saya tegaskan kepada nenek bahwa saya curna ingin tahu. Saya sendiri telah mendengar dan berusaha menghayati trauma keluarga saya terhadap orang-orang Islam yang begitu cepat merasa benar sendiri dan gampang mengkafirkan orang lain.

Masuk Islam

Sehabis teguran itu, buku Wawasan Islam itu justru rnembuat saya penasaran. Segera saya tinggalkan buku-buku pelajaran sekolah dan segera pula saya buka buku itu lembar demi lembar.

Sampai pada pengertian “ketauhidan”, saya tertegun. Saya merasa belum pernah menemukan kesimpulan yang begitu jernih tentang Tuhan. Dalam buku itu tertera bahwa Tuhan itu Maha Esa. Ia sama sekali otonom. Ia tidak beranak dan diperanakkan.

Hari itu di pertengahan bulan Ramadhan, ketika menjelang beduk magrib, di saat kaum muslirnin menanti berbuka puasa, hati saya mulai terharu. Ada perasaan lain yang hadir dalam lubuk hati saya. ini untuk pertama kalinya azan magrib datang menyentuh kalbu dan pendengaran saya dengan perasaan lain.

Keharuan ini terus menyelimuti hati saya. Sampai jauh malam, saya mulai menimbang-nimbang kemungkinan untuk masuk Islam. Malam itu saya tidak dapat tidur. Namun, niat itu kembali terusik oleh kenyataan bahwa citra Islam yang sampai kepada saya adalah citra yang sama sekali tidak menarik simpati.

Namun, gambaran itu, bagi saya sangat bergantung pada prasangka baik dan buruk. Untuk hal ini saya berprasangka baik saja tethadap agama Islam. Justru dalam agama Islam, saya menemukan bahwa Allah itu Esa dan ada di mana-mana.

Kita bisa berdoa langsung kepada-Nya, tidak perlu perantara. Dalam agama yang saya anut, setiap berdoa harus membayangkan wajah Yesus. Menurut ajaran Islam yang saya ketahui dari buku itu, Tuhan itu tidak bisa dijangkau Zat-Nya. Saya benar-benar yakin Allah telah menunjukkan jalan kepada saya. Rasanya saya tidak ingin menunda-munda lagi. Saya ingin segera menjadi seorang muslimah.

Esok harinya dengan tergesa-gesa saya menuju tempat pertemuan di kawasan Sangkuriang. Dengan sikap santai, saya ungkapkan keinginan itu kepada teman-teman. Mereka kaget dan langsung menanyakan apakah saya sudah piker piker. Saya jawab, Ya dengan yakin. Dan akhirya, di depan mereka untuk pertama kalinya saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.

Usai mengucapkan syahadat, meneka merangkul saya. Air mata segera berurai dari pipi-pipi kami. Esok harinya, dengan diantar oleh mereka, saya dibawa menghadap Pak Muhammad Sadali untuk dituntun kembali ber-syahadat. Pada 9J uni 1985 atau 20 Ramadhan 1405 H, saya kembali mengucapkan syahadat di Masjid Salman ITB.

Keputusan saya ini ternyata langsung disambut kemarahan keluarga, terutama ayah. Keluarga kurang setuju dengan pindahnya saya ke agama Islam. Keluarga saya memutuskan untuk tidak menerima saya lagi. Saya keluar dari rumab dan kemudian tinggal di rumah kos. Allhamdulillah Allah selalu melindungi saya dengan berbagai kemudahan. Dari hasil menulis di berbagai media massa, saya dapat menyelesaikan sekolah dan melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universiti Padjadjaran (UNPAD) Bandung.

Setelah beberapa lama menganut agama Islam, keluarga saya kembali membujuk saya untuk kembali ke rumah. Mereka mendesak saya untuk melakukan sidi (pembaptisan kembali seorang Kristen yang telah beranjak dewasa atas kemauan sendiri). Ajakan itu saya tolak.

Tahun 1989, saya mulai mengenakan busana muslimah (Jilbab). Dalam beragama Islam ini, saya banyak menemukan pengalaman rohani. Dalam pengalaman rohani ini saya merasakan nikmatnya beragama Islam. Kemudian, saya menikah dan alhamdulillah kini telah dikarunia anak. Saya berjanji akan mendidik anak-anak saya dengan pola pendidikan agama.

Selain aktif dalam kegiatan keagamaan, saya juga aktif dalam bidang kesenian, yang telah saya tekuni sejak kecil. Kini, saya aktif dalam grup sanggar seni yang bemuansa islami yang bernama Barzakh. Untuk menambah wawasan dalam hal agama, saya dipercaya oleh sebuab televisi swasta, untuk menjadi pembawa acara, bertajuk Tasawuf. Sumber: www.mualaf.com

 

 

54. Miss Amina Mosler (Jerman)

Saya mendengar anak saya menangis dengan air mata bercucuran mengatakan. "Ibu! Saya tidak mau tetap sebagai orang Kristen sesudah ini. Saya ingin menjadi orang Islam. Ibu juga, ya Bu, harus bersama saya masuk agama yang baru ini."

Kejadian itu adalah pada tahun 1928. Waktu itulah untuk pertama kalinya saya merasa perlu mempelajari Islam. Lewat beberapa tahun, sebelum saya menemui Imam Mesjid Berlin yang menjelaskan kepada saya tentang agama ini, saya selalu meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar dan saya setujui.

Iman kepada Trinitas yang diajarkan oleh agama Kristen adalah suatu hal yang mustahil bagi saya. Akhirnya pada waktu saya menginjak usia 20 tahun, dan sesudah saya mempelajari Islam, saya berpendapat untuk tidak mengakui, tidak menganggap suci dan tidak mengakui kekuasaan Paus yang tinggi, baptis dan lain-lain kepercayaan, jadilah saya seorang Muslimat.

Semua leluhur saya adalah orang-orang yang taat beragama. Saya sendiri tumbuh dalam masyarakat. Karena itu saya membiasakan diri untuk melihat hidup ini dari sudut pandangan keagamaan, dan hal itu mengharuskan saya memeluk salah satu agama. Maka adalah nasib saya yang baik serta menyenangkan bahwa saya mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam.

Sekarang saya merasa sangat berbahagia, dalam keadaan sudah menjadi nenek, karena saya dapat membanggakan bahwa cucu saya telah melahirkan seorang bayi Muslim. Dan Allah s.w.t. memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Sumber : Mengapa Kami Memilih Islam, Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung

 

55. Miss Fatima Kazue (Jepang)

Sejak terjadinya perang dunia ke-II, saya telah kehilangan kepercayaan kepada agama kami, yakni sejak saya menjalankan kehidupan secara Amerika. Saya merasa ada sesuatu yang terlepas dari jiwa saya, akan tetapi saya bisa menentukan apa yang telah hilang itu, sedangkan jiwa saya tetap menuntut supaya saya menentukan apa yang hilang itu.

Adalah nasib baik bagi saya kenal dengan seorang Muslim yang sudah lama tinggal di Tokyo, dan cara hidup serta ibadahnya sungguh mengagumkan saya. Lalu saya tanya dia tentang beberapa masalah yang dijawabnya dengan jawaban yang cukup meyakinkan, memuaskan akal dan jiwa sekaligus. Dia memberitahukan kepada saya tentang bagamana seharusnya manusia hidup sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditentukan Allah s.w.t. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa pandangan manusia akan berubah secepat apa yang saya alami dalam jiwa saya, ketika saya mengikuti dan menjalankan kehidupan secara Islam. Saya merasa bahwa saya setuju dengan Tuhan yang menciptakan saya.

Dengarlah penghormatan seorang Muslim: "Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh". Kalimat itu merupakan do'a memohonkan keselamatan dari Allah, do'a mohon kebahagiaan yang abadi. Ini sangat berbeda dengan kata-kata "good morning" dan "good afternoon", suatu penghormatan yang hanya secara sederhana mengharapkan kebaikan pagi dan sore, di dalamnya tidak terkandung harapan yang kekal, tidak pula mengandung do'a kepada Allah agar melimpahkan rahmat dan berkah-Nya.

Sahabat saya yang Muslim itu mengajarkan kepada saya tentang banyak hal yang harus diimani oleh setiap Muslim serta peribadatan yang harus ditunaikan. Saya.amat tertarik oleh cara hidup menurut ajaran Islam, kebersihannya, keluasannya dan kebiasaannya mengucapkan salam.

Saya yakin sepenuhnya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang bisa menjamin keselamatan dan ketentraman hidup seseorang dan masyarakat secara merata. Hanya Islam sajalah yang memberikan keselamatan hakiki kepada alam kemanusiaan, berlaku dalam waktu yang lama dan membimbing rnereka kepada keamanan.

Berbahagialah saya, bahwa saya setuju dengan jalan keselamatan, dan saya sangat mengharap dapat menyebarluaskan Islam di kalangan bangsa saya, manakala saya menemukan jalan untuk itu.

Sumber : Mengapa Kami Memilih Islam, Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung

Di pos oleh Arbain Muhayat pada 18 March 2012