BUKTI KEBENARAN AL QURAN P1

Penulis: Abdullah M. al-Rehaili
Penerjemah: Purna Sofia Istianati
Penyunting: Okkie F. Muttaqie
Sampul dan isi: Aris Sunandar
 
Kata Pengantar 1
Kata Pengantar 2
Dari Penulis
Dari Penerbit
BAB 01 - Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu? -
BAB 02 - Islam dan llmu Pengetahuan -
BAB 03 - Fasa Penciptaan Manusia (A) -
BAB 04 - Fasa Penciptaan Manusia (B) -
BAB 05 - Fasa Embrio -
BAB 06 - Perkembangan Janin -
BAB 07 - Munculnya Penyakit Baru Akibat Penyebaran Gatal -
BAB 08 - Kulit Sebagai Panca Indera -
BAB 09 - Otak Besar -
BAB 10 - Geologi dan Asal Usul Bumi -
BAB 11 - Geologi  -
BAB 12 - Gunung -
BAB 13 - Laut dan Samudera -
BAB 14 - Kedalaman Laut dan Samudera -
BAB 15 - Fenomena Laut -
BAB 16 - Astronomi -
BAB 17 - Astronomi -
BAB 18 - Awan -
BAB 19 - Kesimpulan -

Lampiran - Pencari Kebenaran -
Lampiran - Cahaya Kebenaran -
Lampiran - Apakah Islam Itu? -

KATA PENGANTAR 1           
Edisi Pertama

Isi buku ini biasanya dihadirkan dalam bentuk videotape, pertemuan, dan dialog yang diadakan dengan ilmuwan terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeza. Hal ini dilakukan untuk menguji fakta ilmiah yang disebutkan di beberapa ayat al-Quran. Selain itu, juga untuk menyoroti fakta bahwa agama Islam itu mendorong ilmu pengetahuan dan pengetahuan Serta tidak ada pertentangan sama sekali antara wahyu al-Quran dan fakta ilmiah.

Ilmuwan yang berpartisipasi dalam dialog ini semuanya non-Muslim. Sebagian besar menjelaskan beberapa fakta ilmiah yang mana mereka baru menyadarl akhir-akhir ini dan beberapa tahun setelah mengadakan penelitian. Mereka mengatakan bahwa apa yang telah mereka temukan akhir-akhir ini setelah mereka menghubungkannya dengan ayat al-Quran, baik secara langsung maupun tidak, lebih dari 1400 tahun yang lalu. Mereka menunjukkan banyak sekali keheranan.

Komentar mereka Sangat bervariasi Tetapi Sebagian besar mengakui bahwa al-Quran tidak datang dari manusia atau sumber biasa. Pada kenyataannya, sebagian meyakini dan menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, yang tercakup dalam per-nyataan orang Islam yang dikenal dengan syahadat sebagai pintu gerbang menjadi Muslim.

Para ahli menyambut gembira fakta ini. Mereka membuktikan bukti kebenaran Islam di depan mahasiswa mereka dan membantu dengan sedikit pengetahuan di antara mereka. Mereka sebenamya membuka pintu yang tertutup dan harapan jalan kebenaran kepada Allah yang merajai alam semesta. Selanjutnya, dengan adanya alasan tersebut, siapa yang mengingkari kebenaran seteLah adanya bukti dan kesaksian para ilmuwan ini?

Allah mengatakan dalam al-Quran:

"Katakanlah: Terangkanlah kepadaku bagaimana pendapatmu jika al-Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) al-Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah ti¬ada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. " (QS al-Ahqaaf :10).

Allah juga mengatakan:

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah sudah mendaki ke langit. Begitulah Allah melimpahkan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS al-An'am : 125)

Dialog asli dengan para ilmuwan ini dirakam pada videotape yang diberi judul "Inilah Kebenaran". Di dalam video itu jauh lebih efektif dan lebih jelas untuk pemirsa. Untuk membuat pertukaran ide pada bermacam-macam orang, kami memutuskan untuk mempro¬duksi buku ini yang berisi kesaksian para ilmuwan yang berpartisipasi dalam diskusi yang sebenar-benarnya sebagaimana yang dimunculkan dalam videotape, tanpa ada perubahan sama sekali.

Videotape itu juga berisi ulasan secara luas dari Syeikh Abdul Majid az-Zindani. Ulasan ini juga dirakam di sini sebagaimana yang mereka ungkapkan dalam tape-tape versi bahasa Inggris. Semua ayat al-Quran da¬lam videotape ini juga tertulis di buku ini sesuai dengan kitab suci al-Quran terjemahan bahasa Inggris oleh Abdullah Yusuf Ali (beberapa pemakaian linguistik lama telah diedit demi kejelasan) yang telah direvisi dan diedit Presiden Islamic Research, IFTA, CALL, dan Guidance, Saudi Arabia.

Kami berharap buku ini akan bermanfaat bagi pembaca dan semoga Allah membantu mereka memahami pesan Islam, membimbing mereka ke jalan yang lurus.


Abdullah M. Al-Rehaili

Riyadh, Ramadhan 1415 (Februari 1995)

KATA PENGANTAR 2            
Edisi Kedua

Kami berterima kasih kepada Anda untuk perhatian terhadap publikasi ini. Kami berharap Anda akan mendapatkan isi buku ini yang menarik, sebagaimana yang kita kerjakan ketika mem¬perkenalkan pada buku yang disiapkan Abdullah M. Al-Rehaili.
Tujuan kami menerbitkan kembali buku ini sama dengan penerbit yang asli, yakni untuk memaparkan/mengekspose dunia kepada buku yang menakjubkan yang dinamakan al-Quran dalam lingkaran pemikiran Islam. Sebagian besar keterangan yang salah telah diter¬bitkan berhubungan dengan/berkenaan dengan posisi Muslim dan Islam terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga kami mendapat pekerjaan ini sebagai langkah lain yang berkenaan dengan investigasi lebih jauh lagi yang objektif dan membuka pikiran kepada keajaiban al-Quran, menumbuhkan semangat dari gambaran pencipta yang menakjubkan dari Sang Pencipta. Selanjutnya mengembangkan pengetahuan itu kepada cita-cita pemuda Islam agar memasuki bidang yang ilmiah. Semua itu membutuhkan waktu lama untuk memberikan pendekatan ilmu pengetahuan dari segi agama. Dan tidak mungkin dalam pemikiran Barat yang sekuler dan beberapa yang memadu secara otomatis dipersiapkan untuk menghadapi konflik antara fakta ilmiah dan doktrin agama.
Hal ini harus diklarifikasikan, Akan tetapi keyakinan Muslim tidak disyaratkan apakah tergantung kepada fakta ilmiah atau tidak yang bertepatan dengan apa yang ditemukan di dalam al-Quran atau perkataan Nabi Muhammad SAW Jika penemuan ilmiah itu bertepatan dengan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran, hal ini selanjutnya dipandang sebagai penegasan apa yang telah dipegang sebagai kebenaran. Hal ini juga menjadi penjelasan atas permasalahan yang bisa menambah pengalaman seseorang di lain waktu.
Hal ini mungkin timbul, di mana pandangan yang dipegang oleh lingkaran ilmiah mungkin menimbulkan konflik dengan tuntutan yang dibuat di dalam al-Quran dan hadis yang autentik Sebagai contoh, Muslim berkewajiban menerima batas yang jelas dalam konteks keagamaan dan harus meneliti dengan cermat apa yang dipegang untuk menjadi pandangan ilmiah. Hal ini menjadi aturan yang umum dengan pandangan untuk memakai konteks agama dari al-Quran dan hadis.
Jika setelah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah (sepenuhnya) hal yang khusus itu dan tidak dapat di¬bantah, selanjutnya Islam tidak meninjau kembali dirinya sendiri, atau umat Islam tidak mengubah/meninjau kembali dengan membuktikan isi sumber Islam, khususnya al-Quran dan hadis. Lebih baik lagi umat Islam memahami dirinya juga paham dengan isi kedua sumber itu. Al-Quran itu mukjizat bahkan sampai sekarang tidak ada kontradiksi dengan fakta yang tidak dapat dibantah yang ditemukan dari dalam al-Quran. Sebaliknya, semua pernyataan yang tegas itu telah dibuktikan sebagai hal yang tidak akurat dan dalam beberapa hal membersihkan dari prasangka atau pengetahuan yang salah. Pada kenyataannya, kebenaran apa yang telah dibuktikan ilmu pengetahuan yang ditemukan baru-baru ini sebenarnya sudah diungkapkan al-Quran beberapa tahun silam.
Tafsir al-Quran didasarkan atas apa yang telah diuji/dibuktikan dengan peralatan secara ilmiah. Hal ini berdasarkan ayat al-Quran. Apakah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW menyebutkan hal tersebut, apa yang dipahami sahabat beliau itu berkenaan dengannya. Bahasa Arab dan hal tersebut di mana tidak ada pernyataan yang langsung dari sumber ini, maka ilmuwan boleh menggunakan alat lain untuk menarik kesimpulan arti yang sebenarnya. Inilah tingkat di mana ilmu eksak mungkin dimanfaatkan untuk mem¬bantu dalam mengklarifikasi atau menjelaskan maksudnya.
Sudut pandang itu banyak perbedaan dari segi fakta atau teori dan harus ada satu keputusan, tidak bingung kedua-duanya. Sudah terjadi di masa lalu, di mana ilmuwan mempresentasikan hipotesis, pandangan atau teori hanya untuk merevisi apa yang telah dinyatakan lebih awal yang berhubungan dengan kemajuan teknologi atau penemuan-penemuan baru. Sebagai contoh, perkembangan embrio manusia. ketika ilmuwan Eropa tidak bisa membuktikan secara benar bagaimana terjadinya reproduksi manusia, meskipun demikian mereka tetap bersikeras dengan teori mereka sekarang ini. Akan tetapi, pernyataan Nabi  Muhammad SAW yang dijamin benar, menolak pernyataan ilmiah ilmuwan Eropa yang selanjutnya mereka dipaksa dibuat menarik kembali pernyataan mereka yang sebelumnya. Hal ini juga menjadi jelas bahwa pandangan Islam sungguh-sungguh telah membenarkan kesemuanya.
Hal ini juga menunjukkan bahwa aiam yang tidak dapat dilihat atau supranatural adalah sesuatu yang di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan tidak dapat diukur dengan peralatan. Islam, seperti agama mayoritas yang lain, tetap bertahan tentang kepercayaan adanya Tuhan malaikat, wahyu, mukjizat, kehidupan akhirat, dan hal lain yang pasti di luar jangkauan ilmu pengetahuan. Pekerjaan ini tidak berhubungan langsung dengan hal itu, akan tetapi mengikuti pertanyaan yang diajukan sebagai berikut: Jika al-Quran itu sangat akurat dalam hal mengkaji ilmu pengetahuan sehingga kita bisa membuktikan sekarang dan hal ini sebelum kemampuan seseorang mengerjakan hal tersebut, dengan tidak berpegang pada alasan itu bisakah dari proses sebuah sumber ilmu pengetahuan melebihi kemampuan diri kita?
Apakah tidak berpegang Pada alasan, misalnya, sebuah sumber yang selanjutnya dapat berhubungan dengan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara akurat, jiwa manusia dan kehidupan di akhirat yang mana tidak ada manusia yang dapat mengingkarinya secara ilmiah atau berdasarkan ilmu pengetahuan?
Kita harus mempertimbangkan pesan yang lebih besar yang membawa keempat itu di dalam al-Quran dan yang dibawa Nabi Muhammad SAW Mengenai kondisi manusia dan yang dinantikan umat manusia, kami berharap semoga usaha ini paling tidak memberi tawaran "makanan untuk dipikir" bagi siapa saja yang menyisihkan waktu untuk membaca buku ini.
Format edisi kedua ini berbeza dengan format edisi pertama dalam hal memberikan arus yang berkaitan dengan isi tekstual yang lebih besar dan meningkatkan ketertarikan atau minat membaca. Referensi yang berkaitan dengan pembicara yang aktual sebenarnya telah dibuat sesuai dengan yang diperlukan. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada saudara Abdul Qadir Abdul - Kahlq, Ahmder Valmoria, Amir Ornidu, dan Walid Timbang dengan editingnya yang bernilai, saran, dan juga koreksi teks.

Panitia Buku

Yayasan Islam al-Haramain (September 1999)
DARI PENULIS
       
Komisi Tanda llmiah

AI-Quran dan Sunnah
Inilah kebenaran dan kebenaran itu terletak dalam pengetahuan seseorang dari kenyataan tentang dirinya. Berbekal dengan sebuah kenyataan dan mengambil keuntungan dari sesuatu hal yang istimewa, hal ini memberi peluang untuk mengetahui realitas tentang dunia di sekitarnya dan selanjutnya memperhatikan tempatnya dalam kehidupan ini. Jangkauan dari hubungan dan jaringan lapangan, serta kebenarannya, maka di situlah kewajiban itu.
Kebenaran, bagaimanapun harus memiliki contoh yang harus ditujukan kepada orang di sekelilingnya dan menjelaskan realitanya kepada mereka. Itu merupakan pesan dari pemberitahuan yang sangat penting untuk pelajaran dan pengajaran. Pesan Allah telah ditunjukkan untuk siapa saja yang Dia kehendaki dari di antara utusan-Nya yang terpilih, seperti utusan-Nya yang mulia dan utusan-utusan besar yang dekat dengan-Nya yang Dia telah memberi pendidikan.
Dari pengetahuannya sendiri, Dia mengirim, menurunkan wahyu yang menjadi petunjuk kebenaran dan wahyu itu telah diperkenalkan. Selanjutnya, sebagai isyarat dari kekuasaannya dan petunjuk dunia, di semua waktu dan tempat, utusan yang mulia dan utusan yang dekat ini dikirim untuk makhluknya dan utusan yang lain. Sebagaimana firman Allah:
"Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk." (QS ar-Ra'ad : 7)
Secara kenyataan, bahwa hal ini merupakan tugas yang menguntungl:an untuk mencari kebenaran kembali jauh pada zaman dahulu dan tetap pada sejarah dirinya. Sejak hal ini akan tetap pada hal-hal yang mendasar kehidupannya hingga Allah mewarisi bumi dan keseluruhannya, hal ini telah diperpanjang Allah untuk setiap orang yang beriman yang datang mengakuinya. Cendekiawan ditetapkan sebagai pengganti nabi sebagai perantara pesan dan petunjuk yang diperhatikan, cahaya dan keuntungan yang bagus yang berlaku untuk seluruh umat manusia.
Oleh karena itu, pesan terakhir yang dinamakan kitab suci al-Quran telah dturunkan untuk seluruh umat manusia untuk menyebarkan pengetahuan dan kebenaran tentang al-Quran. Akan tetapi, selama mengerjakan hal tersebut, hal ini menunjukkan penghargaan terhadap kemampuan intelek, meskipun dalam lingkup pengetahuan sebagai jajahan dari intelek. Hal ini juga memperjuangkan penyebab dari ilmu pengetahuan dan hasilnya, dengan sebuah pandangan dari motivasi seseorang untuk menggunakan semua usaha yang mungkin dalam pertimbangan dan tafsiran diberikan untuk semua versi oleh tradisi ramalan dan dikerjakan demikian, mengidentifikasi tanda dari dunia yang tampak dan yang tidak tampak serta jiwa di masa datang.
Allah menenteramkan orang dengan membuka pintu hatinya dan menunjukkannya jalan yang sesuai pada tempatnya. Penerangan-Nya itu bertambah jika dia jujur dalam maksudnya dan tekun dengan ketaatannya kepada Allah serta melakukan tugasnya dengan penuh semangat hanya untuk mengharap ridha-Nya. Tidak hanya itu, Dia juga menawarkan janji kepada mereka yang tidak dapat dipecahkan untuk pengaruh itu, kapan saja perjalanan memperoleh kekuatan untuk peneliti dan pemikir serta ketika mereka menghadapi betbagai halangan dan rintangan. Dia Yang Maha Kuasa akan mengirimkan utusan kepada mereka dan membantu membuka kenyataan dengan lebih mudah buat mereka. Hal ini, sebagaimanayang mereka ketahui melalui petunjuk-Nya, dan dengan kelembutan-Nya, membantu mereka mengidentifikasi kenyataan-kenyataan itu dengan mempertimbangkan penuh tekad bulat ketulusan dan usaha mereka karena Allah adalah semua yang berpengetahuan banyak tentang mereka.
Firman Allah SWT yang bagus sekali:
"Dan katakan¬lah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan. " (QS an-Nahl : 93)
Oleh karena itu, tidak seorang pun yang memiliki alasan makhluk-makhluk-Nya tidak dapat menentang hukum Allah yang telah dibuat sedemikian rupa melalui kesadaran-Nya dan makhluk yang mau mendengarkan yang mengharapkan kebenaran, melawan makhluk Nya bagi siapa yang baik kurang memperhatikan atau herpura-pura perhatian tentang kebenaran. Sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka axab yang sangat keras " (QS asy-Syura : 16)

DARI PENERBIT
       
Agama Harus Ilmiah
Agama harus ilmiah, sebab kalau tidak dia bisa menjadi tirani (Bagus Riyono)
Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, orang yang berilmu senantiasa menduduki posisi terhormat di tengah masyarakat. Dengan kelebihan yang mereka miliki itulah peradaban manusia bisa bergerak dari satu kondisi tertentu ke kondisi lain yang lebih baik. Sebab, berkat renungan¬renungan dan tangan dingin mereka, maka berbagai rahasia alam bisa terkuak sehingga semakin mempermudah kehidupan masyarakat luas. Bahkan dengan ilmu yang mereka miliki itu dia bisa menggenggam kekuasaan di tangannya. Pahng tidak, Quran memberi contoh akan hal ini pada diri Sulaiman dan Thalut.
Namun demikian, ilmu yang terus dikembangkan para ilmuwan ini bisa menjadi malapetaka yang mengerikan bagi kehidupan dan peradaban umat manusia bila tidak ditancapkan di atas nilai-nilai moral dan agama yang benar pula. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bila berada di genggaman orang yang tidak bermoral justru digunakan untuk mencelakai dan menindas pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Mereka mengabaikan keberadaan Allah sebagai penguasa tunggal alam semesta ini, bahkan tidak sedikit yang justru mengaku dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan sang penguasa segala kehidupan. Akibatnya, kebenaran dan tata nilai kehidugan umat manusia didasarkan pada kemauan mereka semata yang menuruti hawa nafsu yang merusak fitrah kehidunan umat manusia.
Maka dari itu, agama sebagai sumber tata nilai Irehidupan umat manusia harus bisa seiring dan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan, lebih dari itu semua, agama sebagai sumber inspirasi dan memberi dasar-dasar dan petunjuk serta mempermudah bagi ilmuwan untuk merenung dan melakukan penelitian dan penemuan ilmiah. Maka dari itu, agama yang datang dari Alllah pasti sama ilmiahnya dengan alam semesta ini yang sama-sama. diciptakan Allah. Sehingga ajaran agama yang disampaikan para nabi dan rasul lewat wahyu pasti juga ilmiah. Dalam artian seluruh ajaran agama; baik yang membahas hal¬hal yang indrawi maupun yang ghaib pasti ilmiah. IImiah di sini adalah logis dan masuk di akal sehat, tidak harus rasional. Maka dari itu ada sebuah ungkapan yang menyatakan: Agama itu akal, tidak beragama bagi orang yang tidak berakal.
Berdasarkan fenomena itulah, maka Allah memberi kedudukan yang khusus di hadapan-Nya pada orang yang beriman dan berilmu. Dua fakor ini, iaitu iman dan ilmu, merupakan variabel yang sangat mendasar dan vital bagi tegaknya nilai-nilai kebenaran absolut di muka bumi yang dibawa para rasul pada setiap kurun waktu dan tempat. Maka dari itu, Allah menyatakan bahwa orang beriman dan berilmu ditinggikan derajatnya.
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (QS al-Mujadilah : 11).
Mengapa demikian? Sebab, ilmuwan yang mampu menguak berbagai rahasia alam semesta akan dengan mudah mengagumi betapa kompleks dan teraturnya segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Selain itu, para ilmuwan juga menyadari betapa luasnya alam semesta ini dan kecilnya manusia. Dengan demikian, ilmuwan yang bisa dan mau merenung akhirnya akan sampai pada satu kesimpulan betapa maha besarnya yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya, baik yang sudah terkuak maupun yang belum. Akibatnya, tatkala wahyu yang tertulis dalam kitab suci menyatakan bahwa semua ini yang menciptakan dan menguasai adalah Allah, Tuhan semesta alam, maka akan dengan serta merta mengakui dan rela tunduk patuh terhadap segala aturan Allah yang tertera dalam kitab suci dan segala aturan lainnya. Sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu (ulama) " (QS al-Fathir : 28).
Namun demikian, Allah juga sudah memberi isyarat bahwa ilmuwan pun banyak yang mengingkari kebenaran yang benar-benar sudah nyata yang ada di depannya. Allah memberi julukan kepada ilmuwan yang demikian ini lantaran mereka tidak mau menggunakan akal sehatnya dan hanya menuruti hawa nafsunya. Allah menegaskan hal demikian ini pada beberapa ayat Quran, antara lain:
"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat meng¬ambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal" (QS al-Baqarah : 269)
Katakanlah:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran"
(QS az-Zumar : 9).
"Hanyalah onang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran"
(QS ar Ra'd : 19).
Memang, fenomena demikian ini merupakan sesuatu yang ironis. Hal ini bisa terjadi karena mereka mengedepankan nafsunya sehingga muncul kesombongannya. Dalam artian mereka tidak membutuhkan pihak lain karena sudah merasa mampu berbuat banyak untuk menundukkan alam semesta ini. Keadaan demikian ini juga sudah diingatkan Allah dalam beberapa ayat, di antaranya:
"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat (QS al-Hajj : 3).
"Di antara manusia ada orang orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya" (QS al-Hajj : 8).
"Tetapi orang-orang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan"
(QS ar-Ruum: 29).
"Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka" (QS al-Jaatsiyah : 17).
Buku ini membuktikan bahwa al-Quran mampu memberi inspirasi dan petunjuk pelaksanaan serta tuntunan praktis bagi para ilmuwan untuk melakukan penelitian di berbagai bidang disiplin ilmu. Sehingga Islam sangat kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian kehidupan umat manusia. Sehingga kasus Galileo dan Socrates yang rela mati di hadapan para rohaniawan yang sekaligus sebagai penguasa demi mempertahankan kebenaran ilmiah tidak terulang lagi. Peristiwa ini membuktikan bahwa agama harus ilmiah seiring sejalan dengan alam semesta ini agar tidak terjadi tirani agama.
Yogyakarta, Awal April 2003
Firdaus

BAB SATU Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?
       
Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.
Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham¬mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.
Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.
Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.
Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.
Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.
Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, iaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.

BAB DUA Islam dan llmu Pengetahuan
       
Pemikiran Barat sekarang ini berada di tengah-tengah peperangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Hampir tidak mungkin pemikir Barat sekarang ini menerima kenyataan bahwa kemungkinan ada pertemuan secara mendasar antara agama dan ilmu pengetahuan. Injil, yang menjadi kepercayaan orang Nasrani, menyatakan pohon di mana Nabi Adam AS dilarang memakannya adalah pengetahuan. Oleh karena itu, setelah dia memakan buahnya, dia memperoleh pengetahuan tertentu yang mana tidak dia peroleh sebelumnya. Dengan alasan inilah orang Eropa membantah bahwa selama dua abad mereka tidak menerima pengetahuan ilmiah yang datang dari orang Islam.
Gereja menyatakan bahwa pencarian seperti penge¬tahuan ilmiah adalah penyebab dosa yang asli. Uskup menggambarkan bukti mereka dari Perjanjian Lama yang menyebutkan bahwa ketika Adam memakan pohon itu, ia mendapat beberapa pengetahuan, Allah tidak menyukainya dan menolak memberinya kemurahan hati. Oleh karena itu, pengetahuan ilmiah menolak sepenuhnya peraturan gereja yang dianggap sebagai hal yang tabu. Akhirnya, ketika pemikir bebas dan ilmuwan Barat sanggup mengatasi kekuatan gereja, mereka membalas dendam dengan mencari petunjuk yang berlawanan dan menekan beberapa kekuatan agama. Mereka beralih kepada hal-hal yang berlawanaan untuk mengatasi kekuatan gereja dan mengurangi pengaruhnya kepada hal yang sempit dan membatasi pada sudut-sudut tertentu.
Oleh karena itu, jika Anda membicarakan persoalan agama dan ilmu pengetahuan dengan pemikir Barat, dia benar-benar akan keheranan. Mereka tidak tahu Islam. Mereka tidak mengetahui bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi setelah malaikat yang berhubungan dengan fakta baru tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:
"Tuhan menyatakan, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia, dan malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu yang tegak dengan keadilan. " (QS AIi Imran : 18)
Dan Allah Yang Maha Agung dan Maha Muha berfirman kepada kita:
"Oleh sebab itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah ". (QS Muhammad : 19)
Telah diketahui dari al-Quran bahwa Nabi Adam AS diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya. Kisah dari al-Quran menyangkal Injil yang menyebutkan orang Islam dianggap menyimpang. Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan adalah sebuah tanda kehormatan dan bukan karena pengusirannya dari surga. Oleh karena itu, jika seseorang membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan dengan para pemikir Barat, mereka cenderung mengharapkan argumen yang sama dengan apa yang ada dalam budaya dan agama mereka. Itulah mengapa mereka memberi reaksi dengan keterkejutan ketika mereka ditunjukkan dengan fakta yang jelas sekali dari al-Quran dan Sunnah.
Di antara pemikir Barat yang menampakkan keterkejutannya itu adalah Prof. Dr. Joe Leigh Simpson, Ketua jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan Pakar Molecular dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston. Ketika kami pertama kali bertemu dengannya, Profesor Simpson menuntut pembuktian al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, kami sanggup menghilangkan kecurigaannya. Kami menunjukkan kepadanya sebuah naskah garis besar perkembangan embrio. Kami membuktikan kepadanya bahwa al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa turunan atau hereditas dan sifat keturunan atau kromosom yang tersusun hanya bisa terjadi setelah perpaduan yang berhasil antara sperma dan ovum. Sebagaimana yang kita ketahui, kromosom-kromosom ini berisi semua sifat-sifat baru manusia yang akan menjadi mata, kulit, rambut, dan lain-lain.
Oleh karena itu, beberapa sifat manusia yang tersusun itu ditentukan oleh kromosomnya. Kromosom-kromosom ini mulai terbentuk sebagai permulaan pada tingkatan nutfah dari perkembangan embrio. Dengan kata lain, ciri khas manusia baru terbentuk sejak dari tingkatan nutfah yang paling awal. Allah Yang Maha Agung dan Yang Maha Mulia berfirman di dalam Al-Quran:
"Celakalah kiranya manusia itu! Alangkah ingkarnya (kepada Tuhan). Dari apakah dia di-ciptakan? Dari setetes air mani. (Tuhan) menciptakannya dan menentukan ukuran yang sepadan dengannya. " (QS Abasa : 17-19)
Selama empat puluh hari pertama kehamilan, semua bagian dan organ tubuh telah sempurna atau lengkap, terbentuk secara berurutan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita di dalam hadisnya: "Setiap dari kamu, semua komponen penciptamu terkumpul dalam rahim ibumu selama empatpuluh hari." Di dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Ketika setetes nuftah telah melewati 42 malam, Allah menyuruh seorang malaikat ke rahim perempuan, yang berkata: `Ya Tuhan! Ini laki¬laki atau perernpuan?' Dan Tuhanmu memutus kan apa yang Dia kebendaki. "
Profesor Simpson mempelajari dua hadis ini secara intensif, yang mencatat bahwa empat puluh hari pertama itu terdapat tingkatan yang dapat dibedakan secara jelas atau embriogenesis. Secara khusus, Dia dibuat kagum dengan ketelitian yang mutlak dan keakuratan ke¬dua hadis tersebut. Kemudian dalam salali satu konferensi yang dihadirinya, dia memberikan pendapat sebagai berikut: "Dari kedua hadis yang telah tercatat dapat membuktikan kepada kita gambaran waktu secara spesifik perkembangan embrio sebelum sampai 40 hari. Terlebih lagi, Pendapat yang telah berulang-ulang dikemukakan pembicara yang lain pagi ini. bahwa kedua hadis ini telah menghasilkan dasar pengetahuan ilmiah yang mana rekaman mereka sekarang ini didapatkan".
Profesor Simpson mengatakan bahwa agama dapat menjadi petunjuk yang baik untuk pencarian ilmu pengetahuan. Ilmuwan Barat telah menolak hal ini. Seorang ilmuwan Amerika mengatakan bahwa agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Dengan analogi, jika Anda pergi ke suatu pabrik dan Anda berpedoman pada mengoperasikan pabrik itu, kemudian Anda akan paham dengan mudah bermacam-macam pengoperasian yang berlangsung di pabrik itu. Jika Anda tidak memiliki pedoman ini, pasti tidak memiliki kesempatan untuk memahami secara baik variasi proses tersebut. Profesor Simpson berkata: "Saya pikir tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama, tetapi pada kenyataannya agama dapat menjadi petunjuk ilmu pengetahuan dengan tambahan wahyu ke beberapa pendekatan ilmiah yang tradisional. Ada kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid, yang mana al-Quran mendukung ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah."
Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu daIam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW
Allah berfirman di dalam al-Quran:
"Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. " (QS Fushshilat : 53)
Setelah menyadari melalui beberapa contoh keajaiban al-Quran secara ilmiah yang telah diketahui berhubungan dengan komentar yang objektif dari para ilmuwan, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:
Dapatkah hal ini mejadi sebuah kejadian yang kebetulan bahwa akhir-akhir ini penemuan informasi secara ilmiah dari lapangan yang berbeza yang tersebutkan di dalam al-Quran yang telah turun pada 14 abad yang lalu?
Dapatkah al-Quran ini ditulis atau dikarang Nabi Muhammad SAW atau manusia yang lain?
Hanya jawaban yang mungkin untuk pertanyaan itu bahwa al-Quran secara harfiah adalah kata-kata atau firman Allah yang diturunkan kepadanya. Al-Quran adalah perkataan yang harfiah dari Allah yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang melalui malaikat Jibril. Al-Quran ini dihapalkan oleh Nabi Muhammad SAW yang kemudian didiktekan kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat inilah yang selanjutnya secara bergiliran menghapalkannya, menulis ulang, dan memeriksa/meninjau lagi dengan Nabi Muhammad SAW
Terlebih lagi, Nabi Muhammad SAW memeriksa kembali al-Quran dengan malaikat Jibril sekali setiap bulan Ramadhan dan dua kali di akhir hidupnya pada kalender Hijriah yang sama. Sejak al-Quran diturunkan sampai hari ini, selalu ada banyak orang Islam yang menghapalkan semua ayat al-Quran surat demi surat. Sebagian dari mereka ada yang sanggup menghapal al-Quran pada waktu berumur 10 tahun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tidak ada satu surat pun di dalam al-Quran yang berubah selama berabad-abad sampai sekarang.
Al-Quran telah diturunkan 14 abad yang lalu menyebutkan fakta yang bacu ditemukan akhir-akhir ini yang telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Hal ini membuktikan tidak ada keraguan bahwa al-Quran adalah firman yang harfiah dari Allah, yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar nabi dan utusan yang diturunkan Allah. Hal ini adalah di luar alasan bahwa setiap manusia 14 abad yang lalu telah mengetahui beberapa fakta ini yang ditemukan atau dibuktikan akhir-akhir ini dengan peralatan canggih dan metode yang rumit.

Di pos oleh Arbain Muhayat pada 15 March 2012